loading...

Rabu, 18 Maret 2015

Ibu, aku sudah tak perawan lagi (2)




“Pak Guntur, tolong Bapak tenangkan diri dulu, berikan kesempatan Mei untuk berbicara,” sahut Pak Ibran sambil menahan tangan Ayah Mei yang hendak menampar Mei untuk yang kedua kalinya itu.

“Bicara apa lagi? Semuanya sudah jelas. Dia menari erotis di diskotik, ini memalukan, ini menjatuhkan reputasiku sebagai pejabat negara, sungguh anak sial. Kenapa kau menjadi seperti ini, harusnya kau belajar dan lulus dengan nilai terbaik di sekolah, membanggakan orang tua. Karena kejadian ini prestasi yang telah kau bangun selama ini menjadi hancur,” ucap Pak Guntur.

Ryo, Moi dan Simon hanya menyaksikan tanpa bisa melakukan sesuatu. Memang sangat mengejutkan, Mei yang merupakan siswi paling berprestasi di kelas itu terlibat dalam kegiatan tak senonoh di sebuah diskotik. Jelas ini sangat mencoreng nama baiknya sebagai siswi berprestasi dan tentu mencoreng nama baik keluarganya.

“Aku tak pernah merasa punya prestasi,” ucap Mey. Dan semua yang ada disitu tercengang dengan kata-kata Mey.

“Selama ini aku belajar hanya untuk memenuhi keinginan Ayah, aku tidak pernah menyukai apa yang aku lakukan. Ikut kursus musik, les tambahan, dan lomba-lomba itu. Aku tidak pernah menyukai itu semua, karena Ayah memaksaku,” lanjut Mey.

“Ayah selalu menuntutku untuk menjadi juara kelas, menuntutku untuk memenangkan lomba, menuntutku untuk menjadi ini, menjadi itu, sementara Ayah tidak pernah tahu apa yang aku rasakan. Selama ini aku sangat kesepian, Ayah bekerja sampai lupa waktu, sering ke luar kota, jarang di rumah. Dan gara-gara les tambahan serta kursus musik, aku jarang bergaul dengan teman-teman. Karena kesibukan itu, aku sama sekali tidak punya teman,” jelas Mey.

“Ayah hanya datang ketika penerimaan rapor, dan disitulah Ayah selalu duduk dikursi depan karena tahu jika aku juara kelas dan orang-orang akan bangga dengan Ayah karena telah berhasil mendidik anaknya menjadi juara. Tapi Ayah tidak pernah memberikanku ruang untuk bergaul dengan teman-temanku, Ayah memaksaku ikut les dan kursus yang memasung waktuku. Sampai akhirnya aku bertemu seseorang...,”

“Lalu dia mengajarkanku kebahagiaan, kebersamaan, dan cinta. Ia telah membuatku paham bagaimana cara mengusir kesepian. Sampai akhirnya...”

Mey tak melanjutkan kata-katanya, ia masuk kembali ke kamarnya dan menguncinya dari dalam. Ia menangis tersedu-sedu dibawah almari putih bermotif bunga. Ia memeluk erat foto almarhumah Ibunya, airmatanya tumpah tak tertahankan.

“Maafkan aku Ibu,” pekiknya,”Aku telah menghianati kepercayaan Ibu. Tapi ini semua berjalan begitu cepat. Semenjak Ibu meninggal, aku begitu kesepian. Ayah jarang pulang ke rumah, hidupku penuh dengan kebosanan. Aku seperti terpasung dalam jeruji yang tak nampak,” lanjutnya.

“Ibu, maafkan aku. Maafkan aku. Aku telah melanggar janji kita, aku telah menghianati kepercayaanmu Ibu. Aku tidak hanya telah berkunjung ke diskotik erotik itu, tapi.... tapi aku juga telah kehilangan keperawananku.”

Ia masih ingat betul ketika disaat terakhir bersama Ibunya, di dalam sebuah kamar bertembok putih dengan bau obat yang menyengat, Mey menggenggam tangan Ibunya kuat-kuat. Seakan tak mau berpisah dengan perempuan yang sejak kecil telah mengajarkan arti kehidupan itu.



Mey duduk sambil mencium tangan Ibunya, isak tangis tak mampu dibendungnya.

“Aku nggak mau Mama pergi, nggak.. nggak..” ucap Mey.

Ia menangis sesenggukan sambil meredam prasangka buruk yang mungkin terjadi. Ia tak ingin ia pergi, karena kepergiannya hanya akan membawakan kesunyian dalam hidupnya.

“Mey, maukah kamu berjanji dengan Mama?” tanya Ibunya dengan nada berat.

“Berjanji? Aku mau, asalkan Mama tidak akan meninggalkan Mey sendirian,” jawab Mey dengan rona kesedihan yang nyaris memuncak.

“Ibu... ingin,, kamu bisa menjaga diri, Mey,” pinta Ibunya.

“Maksud Mama?”

“Mama belum tentu akan berada disampingmu ketika kamu memiliki seseorang yang kamu cintai, jadi.... Mama berharap, sampa saat itu tiba, kau tetap mengusahakan kesucianmu, karena selepas Mama pergi, pasti akan banyak hal yang terjadi,” pesan Ibunya dengan uraian airmata.

“Mama kenapa bicara seperti itu? bukankah Mey sudah bilang, Mey nggak mau Mama pergi.”

“Nak,,”

Nampak tubuh Ibunya semakin lemas dan dingin, Mey tercekat. Dia lihat raut wajah Ibunya yang kian memucat dan terlihat susah mengucapkan sesuatu lagi.

“Mama, Mama.. Mama jangan tinggalkan Mey Ma, Mey berjanji akan memenuhi permintaan Mama, tapi jangan biarkan Mey sendirian Ma,” teriak Mey.

Tak lama kemudian beberapa suster dan dokter datang, lalu Mereka memeriksa keadaan Ibunya.

“Tolong diluar dulu mbak,” pinta salah seorang suster.

“Nggak,,, Mey ingin berada disamping Mama.”

“Mbak, kalau terus begini justru akan semakin membuat Mama mbak tidak tertangani.”

--Bersambung.

My Plukme

My Plukme
Klik gambar