loading...

Selasa, 17 Maret 2015

Ibu, aku sudah tak perawan lagi (1)



Semua orang tercengang dengan apa yang terjadi, terlebih para guru dan siswa di SMA Buih rampai. Video yang beredar itu membuat mereka tercekat, tak sedikit yang mengelus dadanya, mereka tak menyangka akan menyaksikan tontonan yang menggelisahkan itu. Sungguh menguras semua perhatian. Siswi yang selama ini dianggap paling cemerlang di kelasnya, berkubang dalam perilaku moral serendah itu.

Ryo, Simon dan Moi saling menatap tak percaya. Benak mereka dipenuhi tanda tanya besar tentang video itu. Ia tahu betul siapa yang ada didalamnya, teman sekelas mereka. Seisi kelas terdiam, video itu menyebar begitu cepat melalui akses internet. Tentu saja, di era yang begitu canggih seperti ini, seluruh dunia langsung tahu video yang dengan sengaja di upload di Youtube dan Facebook itu.

“Apakah ini benar, dia?” tanya Ryo.

“Apa ada yang beda dari wajahnya? Siapa lagi kalau bukan dia?” sahut Simon dengan penuh keyakinan.

“Bagaimana mungkin dia bisa melakukan perbuatan ini? Ini sungguh nggak logis,” sambung Moi.

Mereka bertiga terdiam menyaksikan video itu. Sungguh peristiwa yang memalukan. Video yang berdurasi hampir setengah jam itu menunjukkan perilaku erotis seorang siswi disebuah bar, dan mereka merasa mengenal betul siapa siswi itu.

“Lalu siapa yang menguploadnya?” tanya Moi.

 Ryo dan Simon saling menatap dan mengangkat bahu, tanda mereka tak tahu menahu.

“Pasti orang tuanya begitu terpukul,” lanjut Moi.
***
“Bukankah anda wali kelas dari siswi ini?” tanya kepala sekolah kepada Pak Ibran.

Pasca munculnya video erotis itu, dewan guru langsung mengadakan rapat darurat, membahas kelanjutan nasib siswi yang berada dalam video itu.

“Ini sungguh memalukan, salah seorang siswi SMA Buih rampai berkunjung ke diskotik bahkan ikut menari dengan tetap mengenakan seragam almamater,” lanjut kepala sekolah dengan nada geram.

Semua guru memandang ke arah Pak Ibran selaku wali kelas dari siswi tersebut, tak terkecuali kepala sekolah. Mereka menantikan jawaban dari orang yang dirasa paling bertanggung jawab atas kejadian ini.

“Aku tidak mengetahui ini semua, sungguh. Di dalam kelas siswi ini biasa saja, tidak menunjukkan gejala yang aneh. Bahkan dia termasuk salah satu siswi yang berprestasi. Nilai ujiannya selalu diatas angka delapan,” jawab Pak Ibran.

Kepala sekolah menghela nafas.

“Bukankah seharusnya siswi yang pintar itu juga memiliki kecerdasan dalam bergaul?” ucapnya,”Aku tak percaya jika nilai Pendidikan tata keramanya mendapatkan nilai sembilan, bukankah itu sempurna? Namun apakah ini sesuai dengan nagka yang dia dapat?” lanjut kepala sekolah yang sudah terlebih dulu membaca riwayat akademik siswi yang terlibat dalam video erotis itu.

“Dia harus mendapat teguran keras Pak kepala,” sahut salah seorang guru.

“Kalau menurutku tidak hanya teguran, tapi dia harus dikeluarkan, karena orang yang biasanya berkunjung ke diskotik sudah tidak lagi perawan,” sambung Pak Karel, Guru Bimbingan Konseling itu.

Seluruh guru terperangah dengan penjelasan Pak Karel.

“Saya sudah sejak lama mengamati siswi itu ketika mengajar mata pelajaran pengembangan diri. Dari caranya duduk, dari caranya berjalan, dari caranya menatap, sepertinya dia sudah tidak perawan lagi,” jelas Pak Karel.

Semua terdiam, begitu pula dengan Pak Ibran, wali kelas siswi itu.
***
Ia terdiam sendiri, mematung dalam sunyi. Tak berani ia menatap ke arah luar, matahari hari ini begitu menyengat, sinarnya begitu memicingkan mata, ia tak sanggup menatapnya. Yang ia lakukan hanya menangis dalam kamar sepinya, mengutuki apa yang telah ia lakukan.

Tak lama kemudian pintu kamarnya digedor, suara gedornya begitu kencang, menandakan sebuah gertakan emosi yang berapi-api.

“Mey buka pintunya, buka cepat,” teriak orang yang menggedor pintu itu.

Mey tahu betul siapa orang yang menggedor pintu itu. Suaranya begitu khas; gagah dan menggelegar. Itu adalah Ayahnya, yang mungkin akan meminta pertanggung jawabannya atas video yang beredar di internet itu.

Mei berjalan dengan gontai, menuju pintu yang nyaris bengkak karena pukulan lelaki bertubuh tegap dan berkumis tebal itu. Dengan hati-hati ia membukanya, dan sesaat kemudian muncul wajah garang lelaki besar itu, dengan segera sebuah tamparan melayang ke Pipinya.

“Plak,,”

Mei hanya terdiam, berdiri di tempatnya sambil memegangi Pipinya yang mungkin sudah merah karena tamparan itu. Dibelakangnya, Pak Ibran, Moi, Ryo dan Simon tertegun melihat pemandangan yang ada.

“Dasar anak tak tahu diuntung, bisa-bisanya kamu pergi ke diskotik dan menari erotis seperti ini,” pekik Ayah Mei.

--Bersambung

My Plukme

My Plukme
Klik gambar