loading...

Selasa, 31 Maret 2015

Harapan itu masih ada, Bu


hope

Seorang Ibu merasa sangat sedih karena anaknya tidak naik kelas. Dengan wajah lesu ia berjalan gontai menuju parkiran sepeda, kebetulan saya tengah berada di parkiran itu, menanti bulek yang sedang di kelas karena tengah ada prosesi penerimaan raport anaknya, yang tidak lain adalah adik keponakan saya. Kebetulan, saya yang mengantarkannya.

“Nak Rizal ya?” sapa Ibu itu, saya pun tersenyum ramah membalas sapaannya. Lalu, Ibu itu mendekat dan sekonyong-konyong bercerita banyak hal seputar prestasi anaknya di sekolah. Ibu itu juga memberikan penilaian subyektif kepada diri saya.

Nak Rizal kok bisa seperti ini? bisa sampai kuliah, waktu kecil rajin mengaji, selalu naik kelas, dan ndak pernah neko-neko. Hidupnya lurus-lurus saja. Ndak terpengaruh sama anak-anak nakal, ndak merokok, ndak pernah bikin susah orang tua. Bagaimana bisa seperti nak Rizal ini?

Saya tercekat mendengar kalimat demi kalimat yang diutarakan ibu ini. Apa benar demikian? Kalau begitu, selama ini orang menilai saya begitu sempurna (dari kenyataannya). Jujur, mendengar penjelasan itu, saya bukannya senang, bukannya bangga, tapi justru khawatir. Akhirnya saya menanggapi kalimat Ibu itu dengan serius.

Siapa bilang Bu, saya saja waktu kelas satu SD pernah rangking terbawah, rangking 14. Selama sekolah, saya tidak pernah masuk tiga besar. Saya hanya dapat rangking di madrasah diniyah, itupun rangking dua, dan itupun karena saya santri paling tua. Selain itu, NEM saya ketika lulus MTs dan MAN juga rendah, tidak tinggi, dan biasa-biasa saja.
                  
Dan juga Bu, saya baru wisuda TPQ saja ketika kelas 1 Mts. Kala itu, rival saya adalah anak-anak kelas lima dan enam SD. Itupun saya tidak berhasil menjadi juara umum. Ibu juga perlu tahu, kalau sampai saat ini pun, saya masih belajar menulis huruf arab, karena setiap kali menulis arab, saya sering salah.

Dahulu juga, waktu kelas 2 SD, saya pernah bertengkar dengan kakak kelas sampai kepala bocor. Waktu kelas 3 SD, saya juga pernah berantem sampai alis berdarah. Lainnya, saya pernah menilap uang SPP selama tiga bulan ketika SMA, dan akhirnya saya harus menjual HP saya untuk membayar karena itu prasyarat mengikuti ujian sekolah.

Ketika SMA, catatan keterlambatan saya mencapai sembilan kali dengan jumlah point 90. 10 point lagi, saya bisa dikeluarkan dari sekolah. Waktu kelas dua SMA, saya bahkan masuk dalam daftar 5 siswa dengan nilai terendah. Lantas, apa yang bisa dibanggakan dari saya, Bu? Tidak ada, saya hanya manusia yang sampai saat ini pun, masih harus belajar.

Mendengar jawaban itu, Ibu yang bertubuh agak gemuk itu malah tersenyum. Dan melanjutkan cerita awalnya yang merasa sedih karena anaknya tidak naik kelas, otomatis, dalam stigma masyarakat, anak Ibu ini pasti akan dianggap anak bodoh. Pasti akan dianggap anak gagal. Dan lebih berbahaya lagi, kalau sampai ada yang bilang : kedepannya anak ini memiliki masa depan suram.

Meskipun tidak pernah tinggal kelas, tapi saya pernah merasakan bagaimana menderitanya mendapatkan stigma “bodoh”. Betapa mindernya kita, betapa sedihnya kita, dan betapa tidak adilnya hidup ini. Saya merasakan stigma bodoh itu hampir enam tahun lamanya, dan saya merasakan betul bagaimana menderitanya.

Maka, saya agak emosionil ketika Ibu gemuk ini –yang notabene Ibu kandung dan orang yang dekat dengan sang anak—punya pikiran yang sama.

Ibu tidak boleh berfikiran semacam itu. Ibu kan Ibu kandungnya, apa Ibu rela, apa Ibu tega, anak kandung Ibu, yang Ibu besarkan, yang dipundaknya tersemai beribu harapan, mendapatkan label bodoh. Bodoh tidaknya anak, pintar tidaknya anak, tidak bisa dinilai dalam satu sisi, termasuk dari angka-angka di raport yang rawan manipulasi itu Bu. Itu kan hanya angka-angka, sementara anak Ibu lebih dari sekedar angka-angka itu.

Sebagai Ibu, harusnya Ibu berfikir sebaliknya. Ibu jangan ikut-ikutan stigma masyarakat yang mengatakan jikalau anak ini anak bodoh. Kalau Ibu yang notabene ibu kandungnya sendiri saja bilang semacam itu, lalu kemana anak ibu akan mengadu? Siapa lagi yang akan menguatkan kepercayaan dirinya?

Saya yakin, anak Ibu hebat dilain hal. Kecerdasan jangan dipukul rata, ibarat ikan yang dipaksa memanjat pohon kelapa? Jika demikian, sampai kiamat pun ikan akan dianggap bodoh. Atau monyet yang dipaksana menyelam berjam-jam, maka sampai kapanpun monyet akan dianggap bodoh karena memang keahliannya bukan menyelam, tapi memanjat.

Ibu jangan seperti itu.

Saya pun terbawa emosi, apalagi saya pernah mengalaminya secara langsung, dan saya beruntung karena bisa keluar dari trauma itu, bisa keluar dari stigma itu. Itu karena saya pernah bertemu dengan seorang guru yang mencerahkan hidup saya, membebaskan diri saya.

Saya melihat mata ibu itu berkaca-kaca, dan kemudian Ibu itu mengeluarkan kalimat yang membuat saya merasa sangat gelisah.

“Harusnya nak Rizal yang menjadi guru agar siswa-siswa bisa tercerahkan dan mereka bisa menemukan dirinya sendiri.”

Saya tercenung. Menjadi guru? Itulah permintaan orag tua saya, dan memang itulah jurusan yang saya ambil di perkuliahan. Tapi? Tapi saya susah beradaptasi dengan sistem dan kultur pendidikan yang selama ini ada. Saya pernah menjadi guru honorer di sebuah sekolah, dan itupun hanya berjalan satu bulan lebih sedikit.

Saya tidak nyaman karena merasa dikendalikan oleh sistem, dikendalikan oleh tuntutan. Akhirnya, idealisme pribadi pun hilang. Oh, meskipun ada iming-iming PNS dengan gaji lumayan, dan tunjangan terjamin. Tapi... bukan itu yang saya cari. Akhirnya saya pun merasa gelisah sendiri dan memikirkan status mahasiswa yang sudah lama saya abaikan. Agaknya saya harus kembali ke kampus dan menyelesaikan administrasi agar cepat lulus.

Saya pun tersenyum mendengar kalimat itu dan menyampaikan salam perpisahan. Harapan itu masih ada, Bu. Jangan khawatir. Meskipun tidak naik kelas, anak Ibu tetaplah anak yang pintar. Setidaknya untuk dirinya sendiri, untuk Ibu dan tentunya bagi saya yang telah mendengarkan cerita Ibu tadi.


Blitar, 31 juni 2013
A Fahrizal Aziz     

My Plukme

My Plukme
Klik gambar