loading...

Minggu, 15 Maret 2015

Ambisi Politik IMM UIN Maliki



Dalam satu sesi makan siang selepas acara bedah buku Studi Islam Kontemporer, saya berbincang dengan salah seorang pengurus cabang, yang kemaren juga masuk formatur. Dia, dengan agak bercanda mengeluarkan sindiran kepada saya. Kok tiba-tiba hilang? Selebihnya, dia menceritakan proses Musycab termasuk rapat formatur yang akhirnya berhasil membentuk struktur dengan tempo sesingkat-singkatnya. Bahkan jauh lebih cepat dari periode sebelumnya, yang butuh waktu sekitar 3 minggu. Nalar kepo saya pun muncul dengan membuat pertanyaan tentang proses politik didalamnya. Termasuk tiga kubu yang entah kebetulan atau setting, berhasil terakomodir dalam tim formatur.

Hebatnya, meski ada tiga kubu, proses strukturalisasi tidak berjalan lama. Cukup sekitar satu hingga dua minggu pasca Musycab. Dan dia pun juga memberikan umpan balik, kenapa IMM UIN tidak begitu memiliki ambisi? Tentu pertanyaan demikian sangat logis, karena periode yang lalu, ketua PC IMM Malang adalah kader IMM UIN Maliki. Sebagaimana pola pikir politik yang serba ekspansionis, setidaknya IMM Maliki tetap memiliki posisi strategis dalam percaturan politik struktural.

Periode yang lalu, IMM Maliki berhasil memborong tiga formatur dan lima struktur. Bahkan berhasil mendudukkan kadernya sebagai ketua PC IMM Malang. IMM Maliki, mendapatkan dukungan sangat kuat dari UM dan UB, dan tiga komisariat di UMM. Tetapi, memang sejak dulu kita mengalami pembodohan struktural. Terutama, sampai kapanpun, selalu terjebak pada politik aliran atau kubu-kubu. Kemaren, secara sporadis, muncul Kubu Alsha, Kubu Fauzan, atau Kubu Akbar. IMM Maliki tidak berkubu, alias non blok. Bukan karena tidak ingin berkubu, tapi karena secara kebetulan tidak punya jagoan formatur. Jadi hanya bisa sedekah suara. Tidak bisa ikut andil dalam rapat formatur, menentukan struktur hingga ketua PC IMM Malang.

Jika harus menjawab kenapa IMM UIN Maliki tidak punya ambisi? Tentu saya agak kebingungan. Karena pertama, saya tidak bersinggungan secara langsung dengan arena Musycab dan tentu dengan realitas yang ada. Kedua, seperti komentar diatas, saya sudah hilang alias resign alias mundur sebagai pengurus PC IMM Malang, 5 bulan pasca pelantikan. Sementara periode yang lalu, berjalan selama 17 bulan. Itu berarti, selama 12 bulan sisanya, saya tidak tahu menahu apa yang terjadi dengan Cabang, baik dengan ketuanya, strukturnya, atau program-programnya.

Dan apalagi, saya tidak paham politik. Tidak mengerti (atau tepatnya) tidak mau terjebak dalam kubu A, kubu B, kubu C, hingga kubu Z. Periode yang lalu, saat saya menjadi bagian dari Tim Formatur dan berkesempatan untuk menyusun struktur. Kami memilih Yusuf sebagai ketua Umum, lalu Yusuf memilih Didik sebagai sekretaris dan mempercayakan dua posisi strategis kepada dua orang yang secara sikap politik, sebenarnya berseberangan dengan IMM UIN Maliki. Dan lalu, kami pun juga bersepakat memilih Alsha sebagai ketua Korkom UMM, yang notabene dari kubu seberang.

Kubu-kubu mungkin penting bagi sebagian komisariat, tapi bagi IMM UIN Maliki mungkin tidak. Ambisi politik mungkin penting bagi sebagian komisariat, tapi bagi IMM Maliki mungkin tidak cukup penting. Yang terpenting adalah, bagaimana PC IMM Malang bisa akomodatif dan mampu menjadi pemersatu semua komisariat. Bisa menghimpun kekuatan bersama untuk gerakan keilmuan dan budaya. Bisa menjadi partner konstruktif bagi komisariat untuk memajukan perkaderan, dan bisa menjadi jejaring  yang massif.

Namun, ambisi politik bisa dilihat dalam perspektif lain. Misalkan, sejauh manakah daya saing antar komisariat. Memang terlalu dini untuk menyejajarkan tiga komisariat : Pelopor, Reformer, Revivalis dengan beberapa komisariat di UMM seperti Tamadun FAI, Raushan Fikr atau Aufklarung, terutama dalam perspektif kelembagaan. Tapi kontestasi secara personal, bukan hal yang musykil. Ambisi politik kemudian menjadi ukuran, sejauh mana kemampuan membaca wacana, komunikasi massa, hingga kepedulian struktural.

Disana pulalah bisa terukur secara jelas, kemampuan analisis yang tentunya melibatkan sisi intelektualitas. Saya tidak heran, jika dari masa ke masa, komisariat Tamadun FAI selalu dominan dalam Musycab. Bahkan ambisi politiknya melebihi komisariat Renaissance Fisip, yang kesehariannya belajar ilmu komunikasi, politik, dan pemerintahan.

Tidak heran juga jika akhirnya Fauzan terpilih menjadi ketua PC IMM Malang, meskipun ada banyak calon potensial seperti Alsha yang ketua Korkom, atau Akbar yang sudah pernah duduk di Cabang. Karena memang susah menandingi Komisariat Tamadun. Satu-satunya pesaing terkuat selama lima tahun terakhir adalah IMM UIN Maliki, dan entah apa yang terjadi, rasa-rasanya sudah lelah sebelum bertanding. (*)

Malang, 14 Maret 2015
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar