loading...

Senin, 09 Februari 2015

Ritus Kesunyian (9)



****
Di jalan menuju rumah Awan.
Awan berjalan dengan langkah gundah, ia masih mencoba menelaah cerita Bu kepala sekolah siang tadi. Ia harus menelaah kembali cerita itu, jujur saja ia merasa jika itu bukan masalah sepele, meskipun sebenarnya tak begitu nampak mengerikan. Dia tak bisa membayangkan jika berada dalam posisi seperti itu, berada dalam kondisi dimana dia harus terus berjuang melawan masa lalu dan keadaan yang serba membingungkan.
“Apakah itu benar, Bu?” kenangnya siang tadi.
“Iya, dan itu menjadi hal yang begitu kompleks untuk diselesaikan, karena dia telah memutuskan untuk mengubur segalanya tanpa tersisa,” jelas Bu Mira.
Awan tertunduk haru, ternyata ada manusia yang memikul beban tapi terlihat seperti tak pernah terjadi apa-apa. Atau manusia yang tak menyadari jika dirinya tengah berkubang dalam kepedihan. Ia terus menerka apa yang terjadi dengan manusia semacam itu, barangkali ia akan terkurung dalam pekat hitam sampai dirinya akan ikut menghitam dan menyatu bersama gelap lindap.
Jika sudah demikian lalu bagaimana? Ia tak akan pernah mengetahui jika tengah berada dalam tempurung kegelapan karena ia telah menyatu bersamanya, untuk mengembalikannya tentu tidak mudah. Seperti ikan dilaut yang tak akan mampu hidup didaratan, atau pula sebaliknya seperti manusia yang tak akan bertahan lama jika terendam dalam cekungan air.
Tapi apakah benar separah itu? sejak kecil Awan pernah merasakan kondisi yang hampir mirip, ia diadopsi oleh dua orang yang tak pernah ia kenal, diusia empat tahun ia sudah diterkam rasa ketakutan karena kepergian kedua orang tuanya yang mendadak karena sebuah kecelakaan pesawat yang akut. Ia merasa hidupnya tanpa siapapun, sampai ia lupa bagaimana rasanya tersenyum. Lalu, secercah harapan itu muncul saat dua orang datang menjemputnya.
“Sekarang kamu anak Papa dan Mama,” ucap orang itu.
Awalnya ia ragu, karena diusia seperti itu ia masih dibayang-bayangi oleh rasa ketakutan, dan ia tak tahu harus berlindung kepada siapa. Sampai akhirnya sebuah pelukan hangat mengakhiri kesendiriannya, ia bagaikan terlahir kembali dengan senyum dan keceriaan yang baru.
“Papa, Mama,” panggilnya.
Setelah hampir empat tahun ia tak lagi menyebut kedua nama itu, kecuali dalam malam dan kesendirian. Tidak hanya itu, bahkan untuk pertama kalinya bertemu dengan orang yang ia sebut Kakak, dan itu bertahan hingga sekarang. Sebuah keceriaan yang tak mampu tergambarkan oleh apapun.
“Mungkin disisa waktu ini, aku bisa menunjukkan sesuatu itu padamu, menunjukkan sesuatu yang orang lain menyebutnya sebagai keceriaan, Egar,” bathin Awan, lalu dengan langkah tegap ia melenggang menuju rumahnya.
****
Di rumah Egar
“Den, ada telpon dari Mama,” ucap Bi Sarbi saat Egar masih sibuk membaca buku sambil duduk dibalkon rumahnya.
Dengan malas Egar menutup buku itu, menurunkan kakinya dan meraih ganggang telepon dari tangan Bi Sarbi.
“Iya, Ma,” sapanya.
“Kamu sudah pindah ke sekolah itu? bukankah Mama tidak mengijinkan?”
“Tapi Papa mengijinkan,” jawab Egar.
“Papa? Jadi kamu lebih nurut apa kata Papa? Sebenarnya apa yang ada di otak kamu, bukankah sekolah kamu selama ini merupakan sekolah yang elit? Teknologinya canggih dan kamu bisa lebih mengeksplore kemampuan kamu, kenapa malah pindah ke sekolah yang seperti itu?”
“Apa yang ada diotak saya, adalah apa yang ada di otak Mama.”
“Apa maksud kamu?”

My Plukme

My Plukme
Klik gambar