loading...

Selasa, 03 Februari 2015

Ritus Kesunyian (3)



 “Bu Nur, dia itu adalah putra salah seorang konglomerat dan juga anak jenius, jadi ada baiknya jika kita memperlakukannya berbeda dengan yang lainnya.”
Egar duduk dibangku paling belakang, satu bangku dengan sofia yang sudah sejak dua minggu ini duduk sendirian lantaran teman sebangkunya pindah ke bandung. Tak ada yang berani berkata-kata, termasuk Awan sang ketua kelas.
“Silahkan,” ucap Sofia dengan ramah.
Egar duduk dan melepaskan tas pundaknya.
“Sofia,” lanjutnya sambil mengulurkan tangan, mengajak berjabat tangan.
Egar tak membalasnya sama sekali, ia tak memperdulikan uluran tangan Sofia. Senyum Sofia berubah seketika, pertemuan pertama yang begitu kaku, dan entah sampai kapan itu akan berlanjut.
***
Di ruang guru
Pak Daus mengamati dengan seksama barisan angka yang tertulis dalam raport bersampul biru itu, matanya terbelalak melihat angka-angka yang tertulis rapi di dalamnya. Baru kali ini ia melihat nilai raport yang begitu menakjubkan. Sebagai wali kelas sebelas bahasa, ia merasa bangga dengan kedatangan anak baru itu.
          “Tidak mungkin, nilai raportnya hampir sempurna,” pekiknya sambil membuka-buka buku bersampul biru kehitam-hitaman itu.
          Ia mencoba mempelajari biodata siswa baru itu, dan hasilnya cukup mencengangkan. Dia memang bukan anak sembarangan, itu bisa dilihat dari latar belakang orangtuanya.
          “Sepertinya serius sekali, Pak?” suara Pak Darwis membuyarkan konsentrasinya.
          “Oh, iya Pak. Ini lagi membaca biodata siswa pindahan itu Pak,” jawabnya.
          “Siswa pindahan dari sekolah unggulan itu?”
          “Iya Pak, sungguh mengesankan. Nilai raportnya hampir sempurna, diatas 90 semua.”
          “Ah yang benar Pak? Jangan-jangan itu nilai yang dimanipulasi oleh sekolahan?”
          “Saya juga kurang tau Pak, tapi lihat saja nanti. Saya juga belum bertemu dengannya, tapi sepertinya dia memang jenius,” jawab Pak Daus sambil memperlihatkan selembar kertas berisi biodata Egar.
          “hah, dia ....,” Pak Darwis terkesiap.
          Mata mereka saling bertatap dan sejurus kemudian beralih ke arah selembar kertas itu.
          “Dunia ini memang sempit,” lanjut Pak Darwis.
***
          Bel tanda jam istirahat berbunyi, terdengar suara riuh siswa-siswi SMA Cahaya Hati. Mereka bersenda, beradu kata, berlari-lari di halaman sekolah dan duduk-duduk menikmati rindangnya pohon beringin tua yang berdiri kokoh di taman sekolah sambil menyantap makanan ringan. Tak sedikit pula yang menuju masjid, berdiam didalamnya sambil melafalkan ayat-ayat suci, biasanya mereka adalah anak-anak rohis dan remaja masjid.
          “Siswa pindahan tadi namanya siapa ya?” Ocha membuka percakapan serius.
          “Mana gue tau, tapi gila tuh cowok, gayanya cool banget,” timpal Deffy.
          “Ya, tapi sepertinya dia antagonis,” sambung Yuvi.
          Ocha dan Deffy langsung mengalihkan pandang ke arah Yuvi. Biasanya tebakan Yuvi selalu jitu.
          “Antagonis?” seru Ocha.
          Yuvi memperbaiki duduknya dan mencoba merangkai kata-kata yang rapi untuk menjelaskannya kepada Ocha dan Deffy.
          “Kalian lihat kan, dia nggak mau ngenalin dirinya, sikapnya dingin, terus ekspresinya datar-datar. Itu menunjukkan?”
          “Tapi, mungkin saja dia bersikap kayak gitu karena baru pertama masuk kelas kita, Vi?” sergah Deffy yang sejak pertama memandang wajah Egar, memang sudah menaruh sinyal.
          “Oke deh, kita buktiin aja. Hmm.. kalau nggak salah namanya Egar,” Ocha masuk dalam diskusi.
          “Egar?” lanjut Deffy.

My Plukme

My Plukme
Klik gambar