loading...

Rabu, 11 Februari 2015

Buya Syafii, Muhammadiyah, dan Jokowi



Petang itu saya menghidupkan televisi, menuju channel berita. Sambil menyeduh kopi, saya menyimak konferensi pers Tim Independen yang dipimpin oleh Buya Syafii Maarif. Tim Independen dibentuk oleh Presiden Jokowi dalam rangka memberikan masukan konstruktif terkait kemelut KPK-Polri. Kehadiran Buya –sekalipun hanya sebagai Tim adhoc—mengisyaratkan satu hal : akhirnya muncul juga tokoh Muhammadiyah.

Buya Syafii memang salah satu tokoh Muhammadiyah yang terkenal dekat dengan Jokowi, bahkan PDIP. Sudah tidak bisa dipungkiri lagi kedekatan Buya dengan almarhum Taufiq Kiemas. Dalam peta politik 2014 yang lalu, Buya termasuk yang dekat –atau mendukung Jokowi—bahkan menjadi Penasehat Tim Transisi. Berbeda dengan Pak Amien Rais yang secara terang benderang mendukung Prabowo.

Buya Syafii memang bukan politisi dan tidak mau terlibat serius dengan politik praksis. Tetapi Buya tidak sepenuhnya anti politik. Sikap kenegarawanan Buya terlihat ketika (sekalipun mendukung Jokowi) tidak pernah menyerang Prabowo secara figur. Karena Buya paham betul ‘gerbong kultural’ yang berada dibelakangnya juga lumayan signifikan. Meskipun barangkali masih kalah banyak dibanding Amien Rais atau Din Syamsudin.

Pak Amien Rais sendiri justru secara satir mengkritik Jokowi, bahkan menyamakan figurnya dengan sosok Estrada. Berbeda dengan Pak Din Syamsudin yang lebih moderat dan netral. Karena secara Institusional, Pak Din tengah memimpin Muhammadiyah dan juga MUI.

Sayang, setelah pemenang pemilu diputuskan MK, banyak kader Muhammadiyah (yang kontra dengan Jokowi-JK) juga tak mau ‘move on’. Jika kita lansir di group-group ‘Muhammadiyah’ yang ada di facebook, kritik yang ada sudah bukan lagi kritik sehat, tapi sudah masuk level sinis. Ada bahkan beberapa orang yang dalam pemilu tidak mendukung Jokowi-JK, tapi marah habis-habisan ketika tidak ada kader Muhammadiyah di Kabinet. Logika kekanak-kanakan inilah yang barangkali membuat kita mengelus dada.

Secara figur, warga Muhammadiyah pun tertuju pada sosok Buya Syafii Maarif, yang merasa harus ‘bertanggung jawab’ karena tidak ada kader Muhammadiyah setruktural yang masuk kabinet Jokowi-JK.

Jika kita melihat statement Buya Syafii Maarif di Tim Independen, terlihat betul bagaimana sosok Buya mengartikulasikan keberadaannya di lingkaran istana. Ketegasan berfikirnya : Jangan lantik tersangka, perkuat KPK, Penangkapan pimpinan KPK sudah ndak bener. Dll. Mau dekat atau jauh dengan lingkaran kekuasaan, Buya tetaplah Buya. Tegas. Kritis. Tajam. Dan apa adanya.

Buya pasti tahu bahwa rekomendasinya tersebut akan sangat susah di terapkan Presiden Jokowi. Terutama jika menimang-nimang efect politik internal maupun eskternal. Buya tentu tahu konskwensi politik ketika membuat statement “calon kapolri bukan pilihan Jokowi’, ‘KPK dilumpuhkan’ dan ‘Penangkapan Bambang Wijayanto ndak bener’. Jikalau Buya memiliki kepentingan politik secara vertikal, tentu statement semacam itu akan dihindari. Tetapi Buya berani mengatakannya dengan sangat terbuka.

Sayang, tampilnya Buya di gelanggang itu menyisakan satu pertanyaan besar : manakah kader muda Muhammadiyah? tahun ini usia Buya Syafii Maarif memasuki angka 80. Usia yang sudah sangat sepuh untuk menjadi orang di depan layar. Buya sendiri, bukan figur politisi, melainkan sebagai Intelektual dan Cendekiawan. Tentu, domain Buya bukan menyiapkan kader politisi, melainkan menyiapkan gerbong kultural yang bergerak dalam dunia intelektual. Selain Maa’rif Institute, Buya juga orang terdepan yang memback up JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah) sebagai wadah membangun gerakan intelektual.

Hanya saja, di internal Muhammadiyah, bahkan di IMM yang merupakan ortom dilingkup Mahasiswa, masih ada saja gejolak kontraproduktif tentang kehadiran JIMM atau sosok Buya Syafii Maarif sendiri. Bahkan pernah ada sebutan trio liberalis Muhammadiyah. Apapun bentuk sentimen di dalamnya, sekarang kita sadar bahwa Muhammadiyah minus dalam berbagai bidang. Terutama Politik. Pak Amien Rais sendiri, yang begitu nampak superior, akhirnya juga tak bisa berbuat banyak.

Gerakan intelektual, agaknya menjadi satu basis kultural Muhammadiyah yang paling menonjol untuk sekarang ini, Dibanding dengan gerakan budaya, politik, atau dakwah konvensional. Amal usaha Muhammadiyah pun juga telah menjelma menjadi korporasi karena tuntutan zaman. Sudah susah untuk diharapkan menjadi PKO sebagaimana yang menjadi tradisi awal berdirinya Muhammadiyah.

Hari ini kita menyaksikan sendiri, bahwa Muhammadiyah, yang memiliki ratusan bahkan ribuan figur kompeten, tenggelam dalam percaturan wacana karena lemahnya penguasaan politik. Yang paling bisa diharapkan justru gerakan kultural, terutama yang berbasis intelektual. Bahkan sosok Buya Syafii, yang notabene bukan politis, harus tampil sebagai ‘wakil’ Muhammadiyah yang diharapkan mampu memberi solusi atas permasalahan bangsa ini.

Memang begitulah gejalanya, ketika kepentingan politik menyebabkan orang tak bisa berfikir jernih, tak bisa saling percaya satu sama lain, dan fikiran pun menjadi keruh. Pada akhirnya, butuh figur-figur yang mampu memecahkan semua itu secara ilmiah, independen, dan terukur. Sosok intelektual akan selalu dibutuhkan. Karena mereka berfikir untuk kemanusiaan, bukan sekedar kepentingan pragmatis atau golongan.

Hanya saja, setelah Buya Syafii Maarif, siapa lagi?
10 Februari 2015
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar