loading...

Senin, 26 Januari 2015

Menulis, sekali lagi



Hari senin (26/01/15) saya diundang untuk talk show di radio Andalus FM 91,1 MhZ Kota Malang. Saya mengajak Fiqh Vredian sebagai partner dialog. Dalam talk show tersebut, sekali lagi, membahas soal menulis, terutama soal urgensi menulis. Sering kali saya bingung ketika harus berbicara soal tema-tema sejenis : motivasi menulis, budaya menulis dll. Karena menulis adalah aktivitas ‘praksis’, bukan sekedar teoritis. Meskipun tak bisa dipungkiri, ada saatnya kita dipanggil untuk sekedar ikut mengajak menulis.

Saya barangkali tak akan bisa memberikan penjelasan yang memuaskan bagi pendengar, karena menurut saya, menulis adalah ‘kemauan’ bukan ‘perintah’. Ada seorang Ibu yang anaknya ingin pintar menulis, tapi anaknya sendiri kurang begitu ‘ngeh’ untuk menulis. Dan pada akhirnya, sebagai pembicara, kita dituntut untuk menjawab pertanyaan : bagaimana agar anak saya suka menulis?

Jujur saya tidak tahu jawabannya. Sama halnya dengan pertanyaan, bagaimana agar anak saya suka makan sayur? Keduanya adalah soal selera. Mau tidak mau. Ingin atau tidak ingin. Karena menulis, seharusnya adalah proses yang berjalan alamiah. Natural, bukan artificial.

Kehendak untuk menulis, muncul dari dalam diri. Dari kehendak intelektual untuk menyampaikan sebuah pesan, atau dari nurani yang terketuk untuk berbagi, bercerita, dan menyimpulkan makna. Sejatinya, kehendak menulis adalah kehendak yang alamiah. Terlepas dari keinginan finansial, popularitas, atau egoisme logika. Meskipun ketiganya kadang akan muncul dan kita dapatkan sebagai gejala atas kehendak yang alamiah tersebut.

Sekali lagi, penting tidaknya menulis, itu soal rasa, soal kemauan, soal keinginan, dan soal kehendak yang alamiah. Sebagian orang berpendapat menulis itu teramat penting, sebagian lain menganggap biasa saja, dan sebagian juga ada yang menganggap tak penting. Itu semua pilihan. Namun sebagai orang yang menulis, dan sebagai pembicara dalam acara talk show tersebut, pesan utamanya tetap : Ayo menulis.

Meskipun barangkali pesan itu pun juga terlampau usang.

26 Januari 2015, A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar