loading...

Jumat, 02 Januari 2015

Mahasiswa harus berfikir melampaui generasinya



Mahasiswa adalah sebuah gelar elite dalam sosio-kultural masyarakat kita. Menurut data BKKBN, jumlah lulusan perguruan tinggi berada di kisaran 7% dari sekitar 250 juta rakyat Indonesia. Itu berarti, sekitar 93% masyarakat kita, tidak atau belum bisa menikmati pendidikan di perguruan tinggi. Untuk itu, mahasiswa diharapkan mampu berperan aktif dalam sosial-movement (gerakan sosial) di Masyarakat.

Lantas, bagaimana kiat agar menjadi mahasiswa yang berkualitas? Berikut petikan wawancara reporter Suara Akademika A Fahrizal Aziz dengan Agus Purwanto, D.Sc. Fisikawan Indonesia, dosen ITS (Institute Teknologi Sepulun November) Surabaya, alumnus Hiroshima University of Japan sekaligus penulis buku Ayat-ayat semesta yang kemudian membentuk sebuah pesantren sains bertajuk Trensains.

Selama ini, ada sebuah ungkapan bahwa mahasiswa itu ibarat manusia yang berdiri diatas menara gading, apa yang dipelajari terlalu melangit sehingga susah dipahami banyak orang. Bagaimana pendapat anda atas ungkapan tersebut?
Begini. Mahasiswa memang harus mempelajari ilmu-ilmu yang dianggap orang lain sebagai sesuatu yang mewah. Sehingga wajar sekali kalau ilmu yang dipelajari, seolah-olah ilmu langit. Selama ini ada ungkapan itu dikarenakan apa yang dipelajari mahasiswa belum di terjemahkan ke masyarakat.
                            
Menurut anda, kenapa bisa seperti itu?
Hal itu dikarenakan, mahasiswa itu tengah berada pada masa transisi. Dia baru saja lulus SMA. Dia belum bisa sepenuhnya lepas dari orang tua. Mahasiswa sendiri tengah belajar memulai hidup mandiri. Minimal mandiri dalam menentukan dan memikirkan arah hidupnya di masa depan. Di satu sisi, ia memiliki peran vital di masyarakat. sehingga, mahasiswa sendiri ketika di kampus, juga tengah berproses. Problemnya disitu.

Lalu apa saja yang harus di lakukan mahasiswa selama masa transisi tersebut?
Dia harus aktif di perkuliahan, rajin membaca, ikut organisasi, kelompok pengajian dan sebagainya. Itulah yang akan memberi nilai plus dan turut membentuk karakter dirinya.
                                 
Jadi kuliah saja tidak cukup?
Tentu. Kalau hanya kuliah saja, akan ada masalah nanti setelah lulus. Selain kuliah, dia harus banyak bergaul dengan orang lain, belajar berkomunikasi dan ilmu manajemen. Hal itu bisa didapatkan di organisasi atau kelompok-kelompok studi lainnya yang menunjang perkuliahan.
                
Selain itu apa lagi?
Banyak membaca. Mahasiswa harus banyak membaca. Ada sebuah pepatah berbunyi begini : tunjukkan aku rak bukumu, maka aku akan tahu siapa dirimu. Dulu, sewaktu saya masih kuliah di ITB, kebanggaan mahasiswa dilihat dari buku yang ia miliki, terutama buku-buku ilmiah atau pemikiran-pemikiran tokoh.

Kenapa mahasiswa harus banyak membaca?
Banyak membaca itu penting, karena itu salah satu cara upgrade pengetahuan. Sesungguhnya, yang membedakan orang kampung dan kosmopolite itu bukan daerah asalnya. Tapi apa yang ia bicarakan. Misalkan, anda tinggal di surabaya, tetapi tema perbincangan anda hanya seputar dolly, jarak, dll. Akhirnya pola fikir ada sangat lokal. Bisa jadi, anda tinggal di dampit sana, tetapi yang anda bicarakan adalah Aristoteles, plato, dan sebagainya. Maka anda itu kosmopilte. Dan itu semua bisa terjadi kalau kita rajin membaca. Apalagi membentuk karakter sebagai citizen world, maka harus banyak-banyak membaca agar tidak ketinggalan dengan masyarakat dunia lainnya.

Terkait dengan pengembangan keilmuan, menurut bapak apa kelebihan kampus Islam dengan kampus Umum dalam membentuk karakter mahasiswa?
Bedanya di kata “Islam”. Kalau di UIN, kurikulum sinergis dengan agama. Misalkan, selain belajar disiplin ilmu sosial atau sains, mahasiswa UIN juga belajar ulumul Qur’an, ulumul hadits dan lain-lain. Jika dikaji bersama, bisa terjadi titik temu antara agama dan ilmu. Itu yang tidak dimiliki kampus lain. Pemikiran itu juga saya tulis dalam buku ayat-ayat semesta. Bahwa sesungguhnya, alam raya ini juga bagian dari ayat-ayat Allah.

Menurut pengamatan bapak, apakah kurikulum yang dikembangkan UIN Malang sudah menuju sinergitas antara agama dan ilmu?
Saya kira sudah. Bahkan menurut pengamatan saya, dibandingkan UIN, STAIN atau IAIN lain di Indonesia, UIN Malang lebih serius. Saya sudah keliling di beberapa kampus Islam, mulai dari Aceh, Sumatera barat, Jakarta, Jogja, dan lain-lain. dan menurut saya, UIN Malang lebih intens dalam upaya mengembangkan integrasi islam dan sains.

Terakhir, Apa pesan bapak kepada mahasiswa baru yang akan memulai perkuliahan tahun ini?
Mahasiswa harus mengasah nalarnya. Dia harus berfikir melampaui generasinya. Dulu, ketika masih SMA, saya sudah membaca buku-buku Iqbal. Paham tak paham dibaca saja. Ketika mahasiswa, saya sudah aktif membaca karya-karya Alvin Tofler, Heideiger, Ali Syariati dan lain-lain. Meskipun saya mahasiswa teknik, tapi tak ada salahnya membaca buku-buku pemikiran. Kelola waktu dengan baik, kalau sudah padat sekali. Kurangi waktu tidur malam untuk membaca. (red)

My Plukme

My Plukme
Klik gambar