loading...

Senin, 19 Januari 2015

Kematian, Begitulah adanya


Ilustrasi

“Jam tangan ini bagus,” ucap Mbah saat terakhir kali saya bertemu dengannya. Mbah disini bukan mbah dari Bapak atau Ibu, tapi Mbah dari kerabat jauh, lebih tepatnya mertua Paman saya. Saya lirik harganya, Rp499.900. Harga yang terlampau mahal untuk ukuran jam tangan yang sekedar hiasan. Masih banyak jam tangan yang lebih murah dan fungsinya juga sama : sebagai pengingat waktu. Jam tangan yang saya kenakan saja, hanya seharga Rp39.000. Setelah perbincangan soal jam tangan itu, kami tidak lagi bertemu, sampai sebuah telepon berdering di pagi buta dan mengabarkan “...Mbah meninggal.”

Dalam perjalanan menuju rumah duka, saya terdiam, melamun lama, jam tangan seharga Rp499.900 itu gagal terbeli. Uang sebesar itu, lebih baik untuk biaya berobat penyakit livernya yang konon sudah sangat akut sekali. Apalagi di usia renta. Baru saja paman saya membelikan sepeda motor GL-Max seharga 7 juta. Motor khas orang tua. Atau generasi tua. Baru 5 bulan motor itu terparkir di rumah, sudah ditinggal oleh empunya untuk selama-lamanya.

Saya terdiam lama di teras, bergumul dengan banyak orang yang melayat. Tak ada airmata terkucur, atau sekedar sembab mata karena bulir putih yang menepi. Kepergian mbah sudah jauh-jauh terprediksi. Konon, kalau orang sudah tervonis liver, ujung-ujungnya adalah meninggal. Maklum lah, orang-orang desa mempercayai itu sebagai sebuah ‘ajaran kultural’.

Saya jadi teringat dengan Pak Lek, yang rumahnya sekitar 500 meter dari rumah mbah, yang meninggal karena penyakit stroke. Sempat dirujuk di rumah sakit dan opname. Disana, seluruh bagian tubuhnya sudah tidak bisa digerakkan. Hanya selang infus dan masker oksigen yang terpasang. Saat itulah saya melihat tatapan pasrah dari keluarga. Disebuah ranjang kelas ekonomi, yang diatasnya terpajang salib plus patung yesus.

Saya duduk bersandar di kursi plastik. Jenasah sudah dishalatkan dan sudah siap dikuburkan, tapi menurut adat setempat, masih menanti ‘sangat’. Sangat itu semacam waktu yang baik untuk penguburan. Sebelum penguburan, para pelayat disuguhi hidangan berupa nasi rawon dan ayam lodeh. Saya tidak ikut menikmati makanan itu. Sudah kenyang.

Saya kemudian teringat dengan Mbak Yu. Tetangga rumah. Pada saat pernikahan, dia meminta saya menjadi kembar mayang. Duduk mendampingi manten dalam resepsi. Awalnya saya menolak, tapi karena desakan yang begitu kuat, akhirnya saya mau. Mbak Yu menceritakan perihal keinginannya menimang anak secepat mungkin. Tapi sayang, sebelum niat itu terlaksana, sebuah penyakit sudah terlebih dahulu bersarang di tubuhnya dan akhirnya ia menyerah dengan takdir : mbak Yu meninggal.

Teman kecil saya, Awan namanya, juga pernah memamerkan angan-angannya untuk membuat lukisan yang bagus. Keahliannya dalam menggambar, membuat saya menganggukkan kepala saja. Dia sudah menyelesaikan separuh dari lukisan itu dan apa daya, belum sampai separuhnya terselesaikan, Tuhan sudah terlebih dahulu menjemput anak kecil itu. Saat itu saya hanya bisa menangis, dan itulah untuk pertama kalinya saya merasakan sesuatu yang disebut kehilangan.

Nenek saya, sempat mengutarakan keinginan untuk menggendong adik saya yang kala itu baru balita. Tapi karena kondisi fisiknya yang tidak menentu, plus diharuskan opname selama 20 hari di salah satu rumah sakit swasta di Kota Blitar, keinginan itu belum juga terwujud. Sampai kemudian nenek minta pulang ke rumahnya di daerah Serang Panggungrejo, dan tak lama dari kepulangan itu, Tuhan menjemputnya.

Memori tua itu menjelma begitu saja. Kematian tidak bisa dibendung atau diterka. Dan angan-angan, mimpi, atau sekedar harapan akan menjadi resonansi yang abadi. Keinginan mbah untuk membeli jam tangan, mungkin adalah sebuah simbol bahwa ini bukan soal waktu, waktunya didunia sudah menipis, dan tubuhnya pun sudah terlampau renta untuk diajak bepergian. Jam tangan itu tidak akan ia gunakan untuk melihat waktu, melainkan hanya sekedar pelengkap akhir hidupnya.

Selamat jalan, Mbah.
19 Januari 2015
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar