loading...

Minggu, 28 Desember 2014

Kucing dalam kurungan



Saya memiliki tiga kucing lokal. Satu sudah besar sekali, memiliki tiga warna : putih, hitam, kuning. Tapi lebih dominan warna putih. Dua lainnya bewarna abu-abu, yang satu bulunya lembut sekali. Ketiganya adalah kucing turunan yang saya sendiri bahkan sudah lupa silsilahnya. Tapi ketiganya masih memiliki hubungan darah, meskipun kalau bertemu tak pernah bisa akur. Itulah yang barangkali membedakan kucing dengan manusia. Kalau manusia suka bertengkar dengan sesama saudaranya, lalu apa bedanya sama kucing itu? hehe.

Ketiga kucing itu bebas berkeliaran, di ruang tamu, ruang tengah, dapur, kamar mandi, atau jalanan sekitar desa. Tak pernah dikurung atau diikat di tali. Berbeda dengan kucing anggora yang mahal itu, kucing-kucing mahal yang dibeli secara khusus itu, banyak yang di kerangkeng di kurungan. Atau diikat dengan tali. Tujuannya, agar tak keluruyan. Karena kalau keluyuran, bisa saja hilang atau dicuri orang karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Kucing saya berjenis lokal. Tapi mau jenis apapun, kucing tetaplah kucing. Ia sama saja, mahluk hidup. Mau bulunya bagus atau tidak. Yang membedakan adalah selera manusia. Saya tak pernah mencari kucing itu, ia datang sendiri, melangsungkan keturuan hingga beberapa generasi. Kalau ada rezeky berlebih, kadang saya belikan makanan yang layak. Semisal ayam goreng, ikan lele, atau daging lainnya. Sayangnya, kucing tak suka sayuran. Padahal sayuran baik untuk kesehatan. Hehe.

Kadang saya sedih setiap kali ada orang yang mengurung kucingnya dalam sebuah sangkar. Kucing tak bisa kemana-mana. Ada juga kucing yang diikat lehernya dengan tali, layaknya anjing depan rumah. Mau beranjak menjauh, lehernya pasti tercekik tali. Akhirnya ya diam disitu saja. Menjadi hiasan dan pemuas mata majikan. Orang-orang yang mengurung dan menali kucingnya pun juga memiliki alasan yang kuat. Rasa sayang, agar kucingnya tak diganggu kucing nakal atau kucing garong, agar kucingnya tidak hilang, atau agar kucingnya tidak dicuri orang.

Entah kenapa saya sedih sekali melihat kucing yang dipenjarakan seperti itu. Apalagi, kucing bukan jenis hewan yang konsumsi seperti ayam, sapi, kambing, dsj. Kalau ayam di tangkar, selanjutnya bisa disembelih. Mati lah dia. Kalau kucing? Dia pasti menderita sekali. Jenuh. Tertekan. Dan depresi.

Kadang kala, tak ada salahnya membiarkan kucing berkeliaran bebas. Menikmati hidupnya yang penuh tantangan, bertemu kucing lain, entah bercinta atau bertengkar. Biarlah kucing hidup secara alamiah. Jangan jadikan dia sebagai pemuas hasrat kita. Yang kita pasung di dalam kurungan atau menali lehernya. Agar sewaktu-waktu, dia bisa kita temui dan menghibur kita.

Biarlah kucing hidup secara alamiah. Kalaupun dia bertengkar dan harus mati dalam siklus pengembaraannya, setidaknya ia bisa mati secara alamiah pula. Menjemput takdirnya sebagai kucing yang otentik. Bukan kucing yang kita bonsai dalam egosime kita. Karena kucing juga mahluk hidup. Dan setiap mahluk hidup berhak hidup bebas.

Kita pun juga tak mau hidup terpasung, bukan?

27 Desember 2014
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar