loading...

Senin, 29 Desember 2014

Apa salahnya menjadi ndeso?

ilustrasi


Banyak konotasi negatif selalu dikaitkan dengan kata “kampungan” atau “ndeso”. Kerap kali itu menjadi bahan umpatan atau tertawaan. Begitu pun sebaliknya, istilah “orang kota” jadi semacam kebanggaan tersendiri. Orang kota terkesan modern, cerdas, dan lebih dari orang desa. Apalagi, secara administratif pun juga di pisahkan, antara walikota dan bupati. Kampung dan desa semakin lekat dengan kebodohan dan keterbelakangan. Kenapa?

Kalau kita boleh jujur, mayoritas masyarakat kota adalah kaum urban. Dulunya orang desa juga. Sebelum tergempur industrialisasi, Indonesia hampir semuanya desa. Saya mendapatkan banyak cerita dari orang-orang sepuh. Misalkan, di tahun 40-an saja, apa bedanya Kota dengan kabupaten? Hampir tak ada. Kalau begitu, saya membayangkan di era-era kerajaan. Apakah ada dikotomi kota dan desa? Meskipun Kota seringkali menjadi pusat kerajaan. Disana ada pasar yang menjadi pusat ekonomi.

Sejujurnya, dikotomi desa dan kota itu ketika dunia mengenal industrialisasi. Saat Kota terbangun banyak gedung mewah dan elite. Saat pabrik-pabrik besar juga tumbuh subur. Saat kota menjadi ladang ekonomi bagi banyak orang. Apalagi, setelah tumbuhnya lembaga pendidikan yang menjadi pusat ilmu pengetahuan. Kala itulah, stigma Kota sebagai daerah modern dan maju terbentuk.

Di Kota, orang ngopinya di food court, cafe atau coffe place yang gedungnya bagus dan modern. Berbeda dengan di desa, yang ngopinya di warung sederhana. Maskipun sama-sama ngopi, tapi kesan kota nampak lebih membanggakan.

Di Kota, orang berbelanja di supermarket yang bersih, terang, dan pelayannya berseragam. Pembeli bisa mengambil sendiri barang yang ia beli. Tapi kalau di desa, berbelanjanya di pasar tradisional. Ramai, sesak, kumuh, dan kalau hujan becek. Membuat seolah-olah, kota lebih memudahkan, lebih elite dan kesan modern. Bahkan berulang kali saya mendengar istilah “ndeso” setiap kali ada orang yang memilih belanja di pasar tradisional.

Belum lagi merembet ke soal pergaulan. Kalau ada orang suka bertengkar, culun, polos, kumal, dll. Stigmanya langsung : kampungan. Orang Kota terkenal fashionable, cerdas, dan berwawasan.

Kenapa bisa demikian? Saya juga tak tahu. Siapa yang mempropagandakan itu semua. Padahal, tidak semua orang desa itu bodoh, polos, dan miskin. Di desa-desa banyak sekali juragan tanah dan rojo koyo. Soal menjaga lingkungan, orang desa kadang jauh lebih cerdas dari orang kota. Orang desa tahu bagaimana melakukan konservasi alam, menjaga hutan dan mendesain tanah untuk pertanian. Dalam pergaulan di masyarakat, orang desa kadang lebih paham makna kerukunan, persaudaraan, dan kerjasama (gotong royong).

Kalau pun di desa sering terjadi bencana, itu rata-rata adalah ulah orang-orang kota yang datang dengan mesin-mesin modern. Menebang pohon semaunya, mengeruk tanah seenak udelnya, mengoyak perut bumi sekehendak korporasi. Sehingga rusaklah tatanan alam. Kalau begini, siapa yang lebih beradab? Orang desa atau orang yang (mengaku) kota?

Disinilah seolah ada reduksi makna. Indonesia yang sebenarnya sangat ndeso, seolah tidak lebih bangga dengan kota yang modern yang notabene adalah buah dari industrialisasi di eropa, yang di ekspansi ke negara kita dengan semena-semana. Yang menjadi persoalan, ekspansi itu merambat ke semua sektor termasuk budaya. Kita lebih bangga menjadi kota yang oksidental dan western daripada ndeso yang orisinil dan beradab. Akhirnya, kita pun menjadi bangsa yang terdekonstruksi dan xenocentristik.

Kita boleh saja menerima industrialisasi hanya sebatas fisik bangunan, tapi bukan berarti kita tercerabut pada akar kebudayaan lokal kita sendiri. Tata nilai sosial, ndesoisme dan kampungan itu harus tetap kita pertahankan. Karena itu adalah kekayaaan bathin spiritual bangsa kita.

Sebelum segalanya terlambat, ayo kita mulai dari sekarang. Kita bangga menjadi kampungan dan ndeso, tapi bukan berarti pola pikir kita terbelakang.

29 Desember 2014
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar