loading...

Sabtu, 15 November 2014

Ngobrol Bareng Redaktur Radar Malang



Jum’at sore (14/11/14) saya menemani Fiqh Vredian untuk wawancara Mas Kholid Amrullah. Kami agak terlambat beberapa menit, dari jadwal janjian jam 15.00. karena sore hari, apalagi selepas hujan. Kota Malang lumayan macet. Kami tiba di kantor Radar Malang sekitar pukul 15.18.

Saya dan Fiqh langsung berjalan memasuki gedung. Kami membuka sebuah pintu kaca, selanjutnya kita akan menaiki tangga yang disekitarnya terdapat beberapa hiasan berupa foto-foto hasil liputan. Kala itu, Mas Kholid yang juga redaktur plus editor di Radar Malang, sudah stand by di kantornya.

Sebagai redaktur, Mas Kholid biasa bekerja mulai sore hingga jam 22.00. untungnya, sore itu para wartawan masih belum banyak yang kembali, sehingga Mas Kholid punya sedikit waktu untuk kami wawancarai sekaligus berbincang hangat.

Kami berbincang di lantai dua, sebelahnya ada akuarium medium berisi ikan arwana, dan suara air dari hiasan minimalis. Mas Kholid dengan senang hati menceritakan pengalaman hidupnya.

Mulai sebagai wartawan lapangan, hingga kini menjadi redaktur. Mas Kholid sendiri sudah sejak 2003 bergabung dengan Radar Malang. Sudah 9 tahun pula menjadi wartawan lapangan. Saya pernah magang di radar Malang selama 2 bulan, dan ternyata butuh keseriusan tinggi.

Mas Kholid bercerita, bahwa prosesi sebagai wartawan tidak hanya membutuhkan profesionalitas, namun juga passion. Bisa menulis dengan baik saja tidak cukup, yang dibutuhkan lagi semangat dan gairah terhadap profesi yang ia emban.

Mas Kholid juga menjelaskan, bahwa profesi wartawan sebenarnya tidak sesulit yang dikira banyak orang. Selama dijalani dengan penuh dedikasi. Selama ini yang sering dikhawatirkan wartawan baru adalah soal jumlah berita yang disyaratkan.

Menurut Mas Kholid, berita itu adalah ide. Bukan sebatas peristiwa. Dalam satu peristiwa, bisa muncul beberapa ide yang bisa menjadi beberapa berita. Maka, bekal terbaik bagi wartawan adalah punya banyak ide dan pandai menuliskannya.

Mas Kholid sendiri belajar jurnalistik dari lapangan. Ketika di kampus, ia tak pernah ikut komunitas atau organisasi mahasiswa yang bergerak di bidang kepenulisan. Ia belajar menulis murni dari lapangan. Sehingga, setiap mendapatkan kesempatan membawakan materi kepenulisan, ia tak selalu menjelaskan teknik menulis secara teoritis.

Baginya, belajar menulis adalah sebuah hal yang alamiah. Sama halnya seperti anak kecil yang belajar berjalan.

Akhirnya, kami mengakhiri pertemuan sore itu dengan foto bersama. Untuk wawancara lebih lengkapnya, silahkan tunggu majalah suara akademika edisi akhir tahun ya. Kalian bisa mendapatkannya gratis di Kemahasiswaan UIN Malang. ^_^

Terima kasih sudah membaca.

My Plukme

My Plukme
Klik gambar