loading...

Rabu, 14 Mei 2014

Tiba-tiba, saya kangen tahu goreng

Ilustrasi
Saya memandangi list menu di salah satu stand food court tempat hiburan yang cukup terkemuka di Bandung. Tak pernah menduga sebelumnya, bahwa rasa lapar yang tak tertahan itu, membuat kami memarkirkan diri di tempat super mewah dan super asing ini. layout ruangannya sangat modern, iringan lagu-lagu Cielito Lindo. Serasa berada dalam pertunjukan drama musikal, dengan nyala lampu remang-remang.

Saya membaca satu per satu menu makanannya : Waffle, Croissast, Escargot, Macaroon, Foie Grass, Cheese Fondue, Wiener Schnitzel dan nama-nama lain yang tak sempat saya catat. Melihat harganya, kening saya berkerut. Ini tempat apa? Dan apakah kita harus membayar makanan-makanan dengan harga setinggi langit tersebut? Baru saya menyadari kalau malam itu kami salah memilih stand food court.

Saya menemukan sebuah tulisan dengan font menarik di pojok ruangan : special masakan eropa. Anehnya, tulisan tersebut ada di dalam. Berbeda dengan stand foodcourt yang lain, yang jelas-jelas menuliskan western food, eastern food, japanesee food, or Chinese food di teras stand mewah mereka. Tiba-tiba, saya merasa trauma.

Bukan karena alergi makanan eropa, saya pernah merasakan dua jenis makanan eropa : spageti dan Pizza. Ada yang berkomentar enak, ada juga yang kurang pas. Termasuk saya, seorang Javanian asli. Mungkin makanan dengan harga tinggi tersebut, kurang cocok dengan lidah “tropis” seperti saya. Atau mungkin saja karena kebiasaan. Saya baru dua kali makan masakan eropa.

Mungkin akan berbeda cerita kalau saat itu posisi saya ada di Prancis, Belgia, atau Italia. Malam itu saya ada di Bandung, sebuah kota yang (masih) bagian sah dari NKRI. Meskipun julukan kota itu adalah “Paris Van Java”. Selain masakan eropa, tentu masih banyak masakan lokal lain seperti Soto Bandung, Batagor, Siomay, dll. Saya sendiri punya dua makanan favorit : Soto babat dan Rawon.

Tapi bisakah saya memesan Soto babat atau Rawon di stand masakan eropa? Tentu tidak mungkin. Makanan camilan lain yang sangat saya gandrungi adalah tahu goreng dengan sambal petis. Nah, bisakah juga saya memesan tahu goreng di stand masakan eropa? Lagi-lagi saya berhalusinasi.

Harga makanan eropa beberapa kali lipat lebih mahal dari makanan lokal. Tetapi saya amati para pengunjung, rata-rata orang lokal, dengan style yang tentunya bukan dari kalangan menengah ke bawah. Ada juga pelajar berseragam. Wah, saya jadi kepo dengan para pengunjung. Apakah mereka kesini hanya sekedar mengganjal perut yang lapar, atau karena prestise? Entahlah.

Tapi rata-rata, makan di tempat mewah seperti ini, gengsinya lebih besar. Lebih terkesan elite dan berkelas, ketimbang makan di warung-warung biasa. Tapi tak bisa dipungkiri, banyak yang mencari kenyamanan dan kebersihan. Apalagi untuk pertemuan dengan kolega, atau berdiskusi dengan teman-teman.

Akhirnya saya memesan spageti, sejenis Mie pangsit tapi Mie-nya agak tebal dan banyak campurannya. Rasanya pun campur aduk. Terlalu mewah untuk ukuran lidah orang ndeso seperti saya. Meski lebih mahal, tapi tak lebih menyenangkan dari makan Soto babat atau Rawon. Kami tak memesan minuman, hanya mengambil air mineral di lemari es terbuka.

Selesai makan, kami bersendawa. Dengan harga yang tinggi, seharusnya kami bisa memesan dua jenis makanan. Makanan inti dan penutup. Tapi kocek kami hanya cukup untuk membeli makanan inti, plus air mineral ukuran sedang yang dibagi-bagi. Jika makan di warung biasa, kami bisa sekaligus memesan tahu goreng satu mangkuk.

Ah, tiba-tiba saya kangen tahu goreng. :)

Bandung, 13 Mei 2014
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar