loading...

Minggu, 13 April 2014

Perspektif lain tentang Ridwan Kamil



Saya mulai tertarik dengan kota Bandung ketika dipimpin oleh Ridwan Kamil. Sebelumnya, kota yang disebut-sebut sebagai Paris van Java itu memiliki citra yang sangat negatif, seperti kasus korupsi oleh walikota sebelumnya hingga pengelolaan sampah yang tak kunjung usai, bahkan pernah ada julukan jika Bandung adalah kota terkotor di Indonesia. Dua hari itu (6-7/4/14) saya berkesempatan untuk mengunjungi Bandung dan melihat lebih dekat kota Parahiyangan tersebut.

Berawal dari sebuah perbincangan sederhana dengan sopir taxi yang mengantarkan saya dari Paris van Java untuk kembali ke Hotel. Seperti biasa, insting keposaya muncul, saya sedikit bertanya kira-kira perubahan apa yang dirasakan sopir taxi ini ketika Bandung di pimpin oleh Ridwan kamil? Sebelumnya, saya sedikit menjelaskan jika nama Ridwan Kamil begitu populer di luar kota, ia disebut-sebut sebagai satu dari lima kepala daerah yang sukses memimpin kotanya. Meskipun menurut saya penilaian itu masih tergolong prematur karena Ridwan kamil belum ada satu tahun memimpin Bandung.

Saya juga sedikit menjelaskan kekaguman saya kepada Ridwan kamil terutama ketika menonton video TEDx dan konsep membangun kota yang lebih mengedepankan Indeks of happines (Kebahagiaan sebagai parameter kesuksesan pembangunan). Menurut saya, Ridwan kamil memang pemimpin yang unik dan creative. Setidaknya, saya meyakini jika konsep Indeks of Happines itu adalah wujud mengembalikan local-cultureyang sudah sejak lama tercerabut oleh budaya material dan positivistik.

Hanya saja, penjelasan sopir taxi itu ternyata berbanding terbalik, ia merasa jika kebijakan Ridwan kamil selama menjadi wali kota beberapa bulan ini justru memberikan dampak negatif. Sopir taxi—yang saya lupa namanya itu—membeberkan jika kebijakan Ridwan kamil membatasi jam tempat hiburan membuat penghasilannya menurun, bahkan kadang kala tak mampu menutupi setoran minimal. Sekarang ini, semua tempat hiburan di Bandung harus berakhir jam 12 malam. Jika masih ada yang beroperasi maka akan di tindak oleh petugas yang terkait.

Dalam satu sisi, kebijakan Ridwan kamil dinilai oleh sopir taksi, lebih menguntungkan Ibu-Ibu dan anak sekolahan. Misalkan dengan menerapkan hari tematik dan pembuatan taman-taman. Bagi sopir taksi seperti dia, kebijakan selama ini justru memberikan efek negatif. Penghasilannya menurun, akhirnya berdampak pada ekonomi keluarga, pemenuhan kebutuhan dan lain-lain. Mungkin saja, hal sedetail ini tidak pernah terpikirkan oleh pemimpin yang memiliki seribu satu masalah yang harus diselesaikan seperti kota bandung ini.

Hal yang sama juga terjadi di Surabaya, ketika Pemkot yang dipimpin Bu Risma Tri Rismaharini membuat progam untuk menutup kompleks prostitusi Dolly. Bagaimana meyakinkan para pekerja seks komersial yang setiap hari bisa mendapatkan penghasilan jutaan rupiah, harus mengakhiri profesinya dan menjadi pekerja kasar dengan penghasilan yang lebih rendah. Belum lagi dengan para penjual makanan, penyalur (germo) hingga pihak-pihak terkait yang menggantungkan hidup dari kompleks pelacuran terbesar di Asia tenggara tersebut.

Memang, tidak mudah membuat satu kebijakan yang itu bisa diterima oleh banyak pihak. Terutama kebijakan Ridwan Kamil yang membatasi tempat hiburan. Kita tahu, sebagai salah satu kota besar, dengan rutinitas yang padat dan kuatnya hegemoni western-culture, butuh tangan besi untuk menyelesaikan masalah yang ada. Saya mahfum dengan keadaan kota-kota besar yang sudah sedemikian bebasnya, ketika berjalan-jalan menyusuri Paris van Java saja, kita bisa dengan mudah mendapati muda-mudi bermesraan di tempat umum, berpakaian seksi, dan cafe-cafe dengan intensitas pergaulan yang mengerikan. Setidaknya bagi kita yang masih tersentuh local-culture, terutama orang desa seperti saya.

Untuk mengukur sejauh mana keberhasilan Ridwal Kamil dalam memimpin Kota Bandung memang terlalu dini. Tapi penjelasan sopir taxi itu setidaknya telah memberikan persepsi lain tentang Ridwan Kamil yang selama ini dinilai sukses, meskipun baru sekitar enam bulan menjadi wali kota. Semoga saja, aspirasi sopir taxi ini bisa didengar lebih bijak. Apalagi, transportasi umum seperti taxi ini memang laku keras di kota-kota besar yang memiliki intensitas ekonomi yang tinggi seperti Bandung ini. tempat hiburan merupakan salah satu lumbung penghasilan sopir taxi karena hanya taxi lah satu-satunya transportasi umum yang bisa beroperasi hingga 24 jam non stop.

Masalah ini bisa diatasi jika Bandung kelak menjadi tujuan destinasi lokal maupun internasional. Saya berharap, progam Ridwan Kamil untuk memperbanyak taman tematik dan memperindah kota Bandung ini secara tidak langsung akan menarik minat wisatawan sehingga sopir taxi yang sebelumnya banyak bergantung pada tempat-tempat hiburan itu bisa teralihkan dengan semakin banyaknya wisatawan yang menggunakan jasanya.

Untuk itu, hanya butuh waktu saja kapan kota Bandung akan menjadi kota yang nyaman dan ramah untuk menjadi tempat tinggal atau dikunjungi. Dan saya bahagia sekali bisa mampir ke kota ini dan bercengkrama langsung dengan bahasa sunda. Hatur nuwun.

Bandung, 6 April 2014
A Fahrizal Aziz

My Plukme

My Plukme
Klik gambar