Cari Tulisan

loading...

Jumat, 17 Agustus 2018


Oleh : Ahmad Fahrizal Aziz


Sandiaga Uno punya aura positif, sekalipun warga Jakarta sebagian mungkin kecewa, sebab belum ada setahun mejabat sudah ditarik jadi Cawapres mendampingi Prabowo.


Ia meninggalkan Anies Baswedan sendiri, dengan "beban" OKOC-nya, yang sepertinya adalah ide Sandiaga Uno.


Memang akan ada penggantinya, tetapi belum tentu sekompak Anies-Sandi, yang berjuang cukup sengit dalam kontestasi Pilgub DKI yang lalu.


Belum ada setahun mejabat sudah pergi, bahkan mengundurkan diri. Orang respect, tetapi juga berceletuk : kok gitu?


Jokowi dulu hanya cuti, setelah dua tahun mejabat. Saat itu, banyak yang menyebut dia tidak amanah. Apalagi setelah menang pilpres.


Tudingan serupa sepertinya tidak ditujukan untuk Sandiaga Uno, yang bahkan baru berjalan 10 bulan saja, dan bahkan mengundurkan diri, bukan cuti.


Berarti, kalau misal nanti kalah dalam Pilpres, Sandi tak akan kembali sebagai Wagub DKI Jakarta. Sudah diganti dengan yang lain.


Jangankan tudingan tidak amanah, justru Sandi dapat gelar santri Post-Islamisme. Luar biasa, cara memainkan stigma.


Tetapi Sandiaga Uno memang punya aura positif. Sebelumnya, saat menjadi pengusaha. Muda dan kaya raya. Sebab usianya masih dibawah 50 tahun. Kekayaannya mencapai 5 Triliun. Luar biasa. Super kaya.


Sebagai pengusaha, relasi bisnisnya tentu banyak, menggurita, dari semua sektor. Tambah kuat ketika ia mendapat jabatan struktural, apalagi kekuatan politik.


Sebab, saya agak skeptis dengan istilah "saatnya mengabdi". Sebab apa iya dengan jaringan bisnis sebegitu besarnya, tidak memerlukan maintanance, atau payung politik.


Tetapi sosoknya memang moncer. Rendah hati. Tampan dan rajin olahraga. Media darling lah. Sampai banyak yang salah fokus.


Saat semestinya orang bertanya kinerjanya sebagai pejabat publik, media justru lebih tertarik mengangkat hobi jongging, basket, atau renangnya.


Dalam konteksnya sebagai personal, juga sebagai pengusaha, Sandiaga Uno tidak diragukan lagi. Auranya positif dan menginspirasi banyak orang.


Hanya dalam konteks birokrasi, perlu pembuktian. Perlu untuk kita mendengar lebih jauh gagasan dan programnya.


Isu pemimpin tidak amanah, atau tagline "kerja tuntas" yang pernah digaungkan mungkin bisa jadi serangan balik untuknya. Namun Sandiaga akan lebih santai, sebab Jokowi dulu juga begitu. Impas, bukan?


Blitar, 17 Agustus 2018


Oleh : Ahmad Fahrizal Aziz


Salah satu yang menjadi pertanyaan, atau lebih tepatnya kekhawatiran soal Cawapres Jokowi kali ini adalah, apa tidak terlalu sepuh?


KH. Ma'ruf Amin sudah berusia 75 tahun. Memang tidak lebih sepuh dari Jusuf Kalla, yang kini 76 tahun. Menurut info yang berkembang, andai aturan membolehkan, maka duet Jokowi-JK akan diteruskan. Namun tidak bisa karena JK sudah dua kali menjadi Wapres.


Sekalipun hanya Wakil Presiden, tentu beban kerjanya tidak mudah, sebab Presiden pasti akan membagi tugas dengan wapres. Itulah kenapa Wapres juga punya staf khusus.


Nama KH. Ma'ruf Amin memang mengejutkan, apalagi mengingat posisinya kini sebagai Ketua MUI dan Rois Suriah atau Rois Am PBNU.


Dalam jabatannya sebagai Rois Am, Kyai Ma'ruf lebih sebagai dewan penasehat atau pertimbangan, sebab di NU sendiri ada struktur pelaksana yang disebut Tanfidziyah, yang mana ketua umumnya adalah KH. Said Agil Siroj.


Kenapa misal, PBNU tidak mengajukan pengurus Tanfidziyah saja? Sebab Kyai Ma'ruf Amin kini sudah tepat sebagai Wantimpres, yang memberikan pertimbangan-pertimbangan, dibanding harus "turun gunung" mengurusi yang serba teknis.


Namun ya begitulah politik, ada komunikasi dan kompromi yang tidak mudah, yang kadang kurang memuaskan.


Sebenarnya juga bukan faktor sepuh atau tidak, sebab setiap pasangan calon akan menjalani tes kesehatan. Hasil tes itu akan memberikan jawaban, apakah pasangan calon yang bersangkutan memenuhi standart atau tidak.


Track record lebih penting dalam menilai. Pilpres 2014 silam, andai tidak berpasangan dengan Jusuf Kalla, belum tentu Jokowi menang.


Faktor JK sangat penting, sebab dilihat dari pengalamannya di birokrasi dan politik, juga dari elektabilitas. JK berada diurutan 3 atau 4, setelah Jokowi, Prabowo dan bersaing ketat dengan Megawati. (Lihat survei 2014).


Sementara Prabowo memilih Cawapres yang elektabilitasnya sangat rendah, bahkan tidak masuk 10 besar. Hal ini penting dicatat.


Saya berharap Jokowi masih lanjut periode berikutnya, demi menuntaskan pembangunan. Tetapi sepertinya angin politik sedang tidak bersahabat.


Apa karena trend di Malaysia juga mewabah ke Indonesia? Betapapun sepuhnya KH. Ma'ruf Amin kini, jelas masih lebih sepuh Tun Mahatir Muhammad yang berusia 93 tahun, dan masih nampak sehat nan bugar. []


Blitar, 14 Agustus 2018

Senin, 13 Agustus 2018


Oleh : Ahmad Fahrizal Aziz


Kuliner khas kini tak lagi benar-benar khas. Misalkan brem madiun. Kita tidak perlu jauh-jauh kesana untuk mendapatkannya, bisa dibeli di toko oleh-oleh terdekat.


Atau bakpia patok yang khas Jogja. Kini bakpia dijual dimana-mana. Tidak perlu ke Jogja, bisa didapat di toko oleh-oleh Semarang, Kudus, Trenggalek, dan lain-lain.


Kuliner khas, seperti batagor dan siomay Bandung, soto Lamongan, kerak telor Jakarta, mie ayam Solo, ayam betutu Bali, dan nasi Padang juga sudah banyak hadir di berbagai kota.


Jadi apalagi yang khas? Waktu dulu ke Bandung, saya mampir pasar baru, ada warung batagor. Rasanya ya sama saja dengan batagor yang dijual di Blitar. Malah penjualnya orang Sukabumi.


Tidak ada lagi yang benar-benar khas. Termasuk sate madura. Kini sate dimana-mana juga ada. Banyak yang sudah meng-copy atau disebarluaskan oleh para perantau.


Apalagi dengan munculnya aplikasi jual beli online. Kita bisa memesan pudak dari Gresik, atau lumpia Semarang, atau bandeng tanpa duri yang diproduksi sekitar pantura.


Yang khas hanya tinggal suasana, dan perasaan kita. Batagor yang rasanya sama, ketika menyantapnya di Kota Bandung dengan di Malang, tentu berbeda. Bedanya pada suasana.


Nasi kucing dan kopi ojos, yang ada juga di sekitaran Sidoarjo, namun beda rasa kalau menikmatinya di Jogja. Begitu pula dengan nasi padang yang asli buatan Bundo dengan Bundo kota lain.


Kalau bepergian keluar kota, mau cari oleh-oleh yang benar-benar khas, yang adanya cuma di daerah tersebut juga susah. Misalkan yang khas di Wonogiri adalah kacang mede, di kota-kota lain kacang mede juga ada.


Tetapi suasana tidak bisa ditawar. Kalau direnungkan lebih mendalam lagi, apa sih yang istimewa dari Jogja? Bagi yang beberapa kali kesana pasti ya biasa saja.


Okelah, Jogja memang melahirkan banyak seniman dan tokoh dalam lintas bidang, seperti Kota Bandung dan Malang. Itu yang spesial. Ada cara merayakan suasana dengan seni. Ada lagu Kla Project yang terkenal.


Jogja tercipta dari rindu, kata orang. Berbagai narasi, angan-angan, dan segala yang dihunjamkan ke benak kita membuat apa yang di Jogja menjadi istimewa.


Itulah hebatnya daya cipta. Jogja spesial karena ada orang-orang seperti itu, yang pandai menarasikan sesuatu, sekaligus mendramatisirnya.


Di Blitar juga ada. Saya bayangkam betapa syahdunya jalanan dari perempatan lovi hingga alun-alun, atau suasana sore yang tenang di pelataran istana gebang. Permainan musik akustik di Ampyteater Makam Bung Karno pada sore dan malam hari yang tentu memukau.


Tak kalah syahdu. Namun hati kita tidak sepenuhnya disitu. Hati kita berada di tempat lain, yang jauh disana, di Jogja, Malang, Batu, Bandung, atau Bali yang menurut kita menawarkan suasana lebih syahdu.


Yang khas, dan benar-benar khas, hanyalah cara kita memaknai suasana.


Begitulah. Salam rindu. []


Blitar, 8 Agustus 2018

Minggu, 12 Agustus 2018

Oleh : Ahmad Fahrizal Aziz


Isu agama itu memang mengganggu, setidaknya secara politik. Menguras emosi dan energi. Padahal tidak begitu substansial.


Yang penting itu isu ekonomi, dan hukum yang tidak adil. Dua isu ini tak lebih mengganggu dari isu agama, namun sangat substansial. Jika tidak ditanggapi, dampaknya bisa bermacam, sebab berkaitan dengan hidup mati masyarakat.


Isu agama? Andai kalah dalam isu ini, biasanya kalah dalam kontestasi politik. Penting juga, soal hasrat dan kekuasaan.


Apakah Jokowi tergoda isu agama?


Pilpres 2014 silam, rasanya Jokowi masih santai-santai saja, bahkan foto dalam kertas suaranya tidak menggunakan peci. Hanya mengenakan baju kotak-kotak.


Padahal isu agama menyerang dari berbagai sisi. Mulai dari agama orang tuanya, gelar "H" yang bukan Haji melainkan Handoko, munculnya tabloid obor rakyat, dan masih banyak lagi.


Ya, meskipun berpasangan dengan Jusuf Kalla, yang adalah ketua Dewan Masjid Indonesia. Tetapi pertimbangannya lebih karena elektabilitas. Elektabilitas Pak JK antara nomor 3 dan 4.


Isu agama yang menerpa berguguran satu per satu. Jokowi bisa shalat, bahkan berani menjadi Imam shalat, termasuk shalat magrib, yang mana bacaannya dikeraskan. Bisa. Berarti ia seorang muslim. Terlepas apakah makhroj atau nadanya kurang tepat.


Soal tuduhan gelar H, akhirnya terbukti bahwa itu gelar Haji. Naik haji pada tahun 2003. Dan sederet tuduhan lain, yang akhirnya rontok.


Lalu ada apa dengan pilpres 2019? Apa isu agama menjadi masalah genting?


Sepertinya Jokowi masih santai saja, yang ketar ketir mungkin tokoh-tokoh partai di balik pengusungnya.


Jokowi mungkin memilih Mahfud MD, yang berlatar hukum. Atau memilih tokoh lain yang punya background ekonomi. Itu lebih penting, untuk kerja, kerja, kerja.


Bukan politik, politik, politik, la nanti siapa yang kerja?


Blitar, 11 Agustus 2018

Rabu, 08 Agustus 2018


Oleh : Ahmad Fahrizal Aziz


Wonogiri memang unik nan strategis. Letaknya dihimpit dua Provinsi : Jawa Timur dan DI Yogyakarta. Berbatasan dengan Ponorogo, Pacitan, Magetan, dan Gunung Kidul.


Dalam perjalanan Blitar-Sleman, saya mampir di Waduk Gajah Mungkur. Memang sedang kemarau, sehingga waduk terlihat agak surut. Nampak burung-burung bewarna putih melintas di atasnya. Entah burung apa.


Perlu menempuh jarak sekitar 180 km dari Blitar untuk sampai di waduk seluas 8800 Hektar, yang konon merupakan waduk terluas di Jawa Tengah ini.


Suasananya sejuk, bahkan di daerah pusat kabupatennya. Hawanya sekilas mirip Kota Batu. Bedanya lebih lengang. Angin pun bertiup sepoi.


Saya memesan kopi dan mie gelas di warung dekat waduk. Siang hari yang panas pun tak begitu terasa. Beradu dengan Sepoi angin yang mendinginkan kopi saya lebih cepat, dan menerbangkan plastik serta dedaunan.


Dalam perjalanan dari Ponorogo ke Wonogiri, melewati beberapa Kecamatan salah satunya Purwantoro. Masih terlihat mini bus beroperasi, ada yang jurusan Ponorogo-Purwantoro. Bus untuk jarak antar kota dan kecamatan.


Jalannya naik turun, khas pegunungan. Itulah kenapa terasa sejuk, meskipun di siang hari begini.


Sayangnya saya hanya mampir sebentar untuk ngopi, belum sempat mengeksplor lebih jauh, atau menginap disana untuk beberapa hari. Semoga suatu saat terlaksana. []


Sleman, 1 Agustus 2018

Selasa, 07 Agustus 2018


Oleh : Ahmad Fahrizal Aziz

Kenapa harus marah dijiplak sih? Ya bagus kan, tulisannya jadi nyebar dan dibaca banyak orang. Ucap salah seorang teman.


Bagus, iya, tetapi ada rasa tidak terima saja ketika tulisan yang kita buat susah payah, bahkan mencari referensi sana sini, lalu diklaim orang lain. Jelas tidak terima.


Ini sama dengan, kita lelah bekerja untuk dapat uang. Uang itu kita belikan barang kesayangan, lalu barang itu dicuri dan dinikmati orang lain.


Kita yang lelah bekerja untuk dapatkan barang itu, tetapi orang lain yang menikmati.


Sama ketika kita sudah menghabiskan beberapa jam, bercangkir-cangkir kopi, dan energi untuk membuat sebuah karya tulis, lalu dengan semena-mena orang ngambil dan mengklaim karyanya.


Dia dapat pujian, tepuk tangan, honor, dan status sosial, tanpa perlu kerja keras, tanpa melalui proses yang berbelit, enak amat?


Baiklah, mari kita turunkan sedikit tensi emosi kita untuk melanjutkan obrolan ini.


Saya pernah terlibat dalam sebuah liputan tentang "kejujuran akademik", yang salah satunya membidik kasus plagiat, khususnya dilingkup akademisi.


Kita pasti sedih, bahwa akademisi, yang kesehariannya dibenturkan oleh teori akademik, wacana, diskusi, dan praktek-praktek ilmiah, itupun cukup banyak kasus plagiat.


Kala itu ada oknum dosen yang konon mengkompilasi makalah mahasiswanya, lalu dijadikan buku atas nama dosen tersebut. Mahasiswa protes, bahkan menempuh jalur hukum, tetapi tak punya bukti, selain hanya sekedar keyakinan.


Tentu. Ketika itu masih berupa makalah, jelas belum punya hak cipta. Belum masuk jurnal atau diterbitkan jadi buku. Ketika itu kemudian diterbitkan jadi buku pertama kali, atas nama dosen tersebut, jelas mereka tidak bisa apa-apa.


Begitupun dengan dosen itu, yang merasa dirinya difitnah, dicemarkan nama baik, karena kebetulan ia akan naik jabatan. Statement dosen ini ada benarnya.


Lalu kita mau percaya yang mana? Hukum jelas hanya mempertimbangkan siapa yang punya bukti.


Juga, dalam sebuah komunitas atau kelompok penulis, ada karya yang dibagikan dalam rangka meminta kritik dan saran. Karya itu belum dikirimkan ke media. Lalu beberapa minggu kemudian muncul ke media dengan nama yang berbeda.


Usut punya usut, ternyata karya itu dibagikan ke grup whatsapp yang terbuka bagi siapapun. Jelas di dalamnya banyak orang yang tidak kita kenal.


Makanya, saya menyarankan agar komunitas atau kelompok menulis itu punya grup yang membernya cukup orang-orang sendiri saja, atau yang memang anggota aktif. Untuk menghindari hal-hal demikian.


Dalam kasus seperti di atas, lalu penulis utamanya bisa berbuat apa? Alih-alih hanya minta pendapat, eh justru dirampok orang lain, dikirimkan ke media dan dirubah nama penulisnya.


***
Kasus plagiat yang benar-benar polos adalah mengambil karya orang yang sudah muncul ke media, apalagi orang tersebut sudah terkenal. Maka dengan mudah diketahui. Apalagi media digital, yang punya aplikasi pelacak data.


Untuk kasus plagiat resensi, ternyata ada cara baru, yang tentu lucu nan menggelitik. Misal, satu buku pernah diresensi dua atau tiga orang, maka karya tiga orang itu dipilah dan digabungkan.


Jadi paragraf satu dan dua karya penulis A, peragraf tiga dan empat karya penulis B, paragraf lima dan enam karya penulis C, dan penutupnya tulisannya sendiri. Kreatif yang keblinger.


Jadi harus hati-hati. Apalagi status facebook yang serba bebas. Saya pernah mendapati sebuah tulisan yang sama di grup whatsapp yang berbeda. Di grup A tertera penulisnya Tere Liye. Di grup yang lain tertera penulisnya Najwa Shihab dengan tambahan-tambahan emotikon.


Mana yang menjiplak? Jelas bukan keduanya. Hanya orang iseng yang mengubah nama penulisnya saja.


Di era digital yang serba bebas dan terbuka ini, kejujuran memang sangat diuji. Apalgi jiplak status facebook orang juga tidak ada sanksi pidana, dan dalam benak kita juga mungkin tidak akan masuk neraka.


Masa masuk neraka hanya karena jiplak status facebook orang? Malaikat pun mungkin akan tertawa. []


Blitar, 7 Agustus 2018

Senin, 06 Agustus 2018

Oleh : Ahmad Fahrizal Aziz


Buku Filosofi Kopi, yang berisi novelet, cerpen, dan beberapa sajak karya Dee Lestari itu sukses membuat saya penasaran dengan kopi-kopi, meski awalnya berfikir : ah lebay amat.


Bagi orang Indonesia kebanyakan, kopi hanyalah minuman. Hanya. Sebab memang sebelumnya tak pernah mempertimbangkan filosofi-filosofinya.


Kenapa harus tubruk, kenapa latte, cappucino atau espresso? Ah rasanya tak pernah terfikirkan. Minum ya minum saja, selain nikmat juga menambah stamina.


Sebagai rutinitas sebelum bekerja, atau sebagai suguhan ketika begadang.


Buku filosofi kopi itu, menjelaskan bahwa kopi dan ngopi menyimpan sesuatu.


Uniknya, buku itu terbit ketika budaya ngopi belum segencar saat ini. Belum banyak berdiri kedai-kedai kopi yang menggunakan bermacam teknik seduh.


Saya yang jarang ngopi, setelah membaca buku tersebut, menjadi sedikit penasaran. Apa benar senikmat itu?


Ternyata benar. Sampai menjadi kebiasaan. Tetapi saya juga tidak yakin, apa karena buku itu saya ketagihan kopi, atau karena dulu sering begadang demi mengerjakan tugas-tugas, lalu menyeduh kopi.


Karenanya, setiap nongkrong di warung saya biasa memesan kopi. Kadang sengaja berkunjung ke kedai kopi ideal, dan mencicip bermacam biji kopi.


Ketika tahu ada filosofi kopi di Jogya, yang kebetulan sedang ada di daerah tersebut, maka saya mampir.


Lokasinya bukan di pusat keramaian, agak masuk ke dalam, bahkan melewati kebun cabai. Masalahnya perasaan saya merasa dekat. Kan sama-sama di Jogja?


Padahal Filkop tidak di Jogja-nya, meski masih dalam satu provinsi Yogyakarta. Letaknya di Sleman, daerah Ngaglik, Tegal rejo.


Dari lokasi saya menginap, di jalan duta bangsa/ jalan Magelang, masih sekitar 15 km. 15 km itu lumayan. Apalagi bagi pesinggah seperti saya, yang harus menyusur jalanan Jogja yang padat, melewati museum Jogja kembali, terus sampai ada jalan belokan ke kiri sebelum SPBU.


Gangnya tak terlalu besar, dan gelap. Kiri kanannya sawah dan kebun. Ada banyak motor dan mobil terparkir, ramai sekali. Setelah tanya tukang parkir yang logatnya seperti orang Bali itu, baru ngeh kalau disana ada Filosofi Kopi.


Ramai betul, tak seperti bayangan. Areanya pun luas. Bahkan terlalu luas untuk sekedar sebagai cafe.


Sesampainya disana, langsung disambut mini band, menyanyikan salah satu lagunya Ariana Grande. Bagus sekali.


Saya duduk di dekat gambar filosofi kopi. Untuk memesan kopi pun kami harus antri. Selain kopi, ada juga penjual roti, di stand yang berbeda.


Saya memesan Machiato. Kopi dalam cangkir mungil dan pait. Mirip espresso, meski tak lebih pahit.


Teman saya yang tidak terbiasa ngopi, memesan capuccino, dia dapat gambar burung merak. Bukan love atau daun, atau leher angsa, seperti kebanyakan orang.


Rasa penasaran terobati. Tetapi ini memang bukan filosofi kopi yang pure Ben n Jodi dalam novelet karya Dee Lestari. Ini adalah filosofi kopi Ben n Jodi, yang sudah tercampur Luna Maya. []


Sleman, 1 Agustus 2018

My Plukme

My Plukme
Klik gambar