Cari Tulisan

loading...

Rabu, 10 Oktober 2018



Tentu tidak. Apalagi kita tidak pernah benar-benar serius belajar menulis (baca : mengarang). Dan apakah itu perlu?

Sejak SD hingga SMA, bahkan sampai kuliah, selalu dicekoki pelajaran bahasa Indonesia. Selalu. Materinya berputar-putar, dari stuktur kalimat, ejaan, tanda baca, hingga majas-majas.

Muter-muter disitu saja, dan tragisnya setelah lulus banyak yang lupa. Lihat saja postingan-postingan orang di sosial media. Tidak semua bagus. Tidak semua bahasanya tertata, dan itu jumlahnya dominan.

Lalu untuk apa bertahun-tahun belajar bahasa Indonesia? Seolah tak ada gunanya. Sia-sia. Buang-buang waktu. Meski ujian nasional nilai bahasa Indonesianya tinggi.

Tentu itu menggelisahkan, sekaligus jadi refleksi bersama tentang kegiatan sekolah selama ini, yang tidak efektif membentuk siswa agar bisa berbahasa Indonesia dengan baik.

Padahal bahasa itu penting. Tidak saja sebagai alat komunikasi, namun juga identitas bangsa, instrument budaya, dan nasionalisme yang paling awal membentuk bangsa ini.

Selepas merdeka pada 1945, hanya bahasa Indonesia yang bisa menjadi alat pemersatu. Sebagian besar masyarakat belum tahu soal ideologi negara, bangsa, dan sebagainya.

Ketika orang Papua bertemu orang Sunda, orang Bugis bertemu orang Jawa, orang Minang berjumpa orang Madura, yang menandakan mereka satu adalah bahasa Indonesia.

Karenanya merawat bahasa Indonesia penting. Selain di sekolah, juga melalui gerakan-gerakan literasi, khususnya kepenulisan, yang mana bahasa Indonesia dengan serius dijadikan kajian sekaligus "diamalkan", dituangkan lewat tulisan.

Lalu jika sekolah saja tidak mampu, bagaimana dengan gerakan-gerakan literasi yang hanya swadaya?

Inilah tantangan peliknya. Tidak semua orang bersedia. Tidak ada duitnya. Beberapa yang biasanya melapak buku, menyediakan buku bacaan gratis, juga sedikit yang bertahan.

Lainnya gulung tikar ; tak digubris, sering diremehkan, buku-bukunya dipinjam dan tak kembali, yang meminjam pun belum tentu baca.

Bagi para pejuang literasi yang saya temui, jika buku dipinjam dan tak dikembalikan, itu tak jadi soal. Namun yang jadi masalah, ketika buku-buku sudah tidak lagi dibaca.

Lalu lebih sulit mana dengan mengelola komunitas kepenulisan? Ibarat tangga, menulis adalah tangga berikutnya dari membaca. Tentu tidak gampang pula. Meski optimisme selalu ada.

Mereka yang mau menulis, tentu harus melewati dulu "tangga membaca" tersebut. Karena itu jadi salah satu bahan bakarnya.

Karena itulah jumlah yang menulis pasti tidak lebih banyak dari pembaca. Jumlah pembaca juga jauh lebih sedikit dari pendengar dan penonton.
Orang lebih suka melihat dan mendengar, dibanding membaca dan menulis. Maka jumlah penulis tidak banyak, namun tidak sedikit. Banyak yang bisa menulis di antara yang sedikit tersebut.

Akan tetapi membaca (dan menulis) menjadi ukuran kemajuan sebuah negara. Mereka yang menulis, otomatis seorang pembaca yang baik. Setidaknya, memiliki pengetahuan kosa kata yang cukup.

Serta, semua orang bisa menulis. Ahli ekonomi, budaya, politik, kesehatan, pertanian, nuklir dan lain sebagainya, kadang juga perlu menuliskan bidang keilmuan mereka, agar dipelajari generasi berikutnya.

Setiap orang, terutama di era digital seperti ini, ketika sosial media dan media daring mudah diakses, menulis jadi menemukan relevansinya tersendiri. Salah satunya, menuliskan pengalaman pribadi.

Ada banyak hal pribadi yang asyik dan mungkin penting untuk ditulis. Tulisan yang barangkali akan dibaca keluarga, teman, anak, cucu dan seterusnya. Setiap orang punya pengalaman yang berbeda.

Sekolah bisa membiasakan untuk itu, komunitas kepenulisan perlu menguatkan iklim menulis tersebut. Namun pasti tidak banyak yang tertarik.

Terlalu banyak godaan, seperti ponsel pintar. Daripada menulis panjang-panjang, mending ambil foto dengan sedikit kutipan, atau ambil video. Menulis bikin capek.

Karenanya tidak semua orang akan menulis, kendati menulis tetap perlu. Bahkan sebuah tulisan bisa lebih komplit "memotret" suasana hati dan pikiran. []

Blitar, 10 Oktober 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Senin, 08 Oktober 2018



Tahun ini FLP Blitar membuka pendaftaran kelas menulis, dimulai dari kelas menulis puisi pada 6 Mei 2018, dan kemudian kelas menulis non fiksi. Ada 7 peserta offline dan 17 peserta online.

Pada pertemuan pertama, Ahad 7 Oktober 2018, ada 4 peserta offline yang hadir. Tiga di antaranya tidak bisa hadir karena berbagai sebab.

Sebagai satu dari empat mentor pendamping, saya memang berharap peserta yang ikut benar-benar serius, sebab jika tidak hadir sekali saja, atau tidak mengikuti sesi sekali saja, maka akan bingung melewati sesi berikutnya.

Itulah kenapa dalam diskusi dengan mentor seminggu sebelumnya, ada sanksi dikeluarkan dari grup jika sekali saja tidak mengerjakan tugas.

Ada mentor yang kemudian memberikan masukan agar diberikan peringatan dulu, namun banyak yang sepakat dengan sanksi dikeluarkan.

Kenapa? Kelas non fiksi kali ini memang bagian dari pengabdian FLP Blitar. Tidak untuk mencari keuntungan, itulah kenapa ada paket 1 yang gratis. Artinya siapapun bisa gabung dan hadir dalam kelas menulis tersebut.

Karenanya, yang tak berbayar seringkali diremehkan. Memang ada paket 2 dan 3 yang berbayar, namun itupun pilihan sendiri dari peserta dan pembayarannya tidak mengikat di awal.

Mentor berharap kelas ini benar-benar diikuti dengan serius. Karena bukan lagi hanya berisi materi dan sekedar pengetahuan, namun lebih pada praktek dan evaluasi.

Tergetnya, pasca berlangsungnya kelas ini, setiap peserta bisa menulis setidaknya 2-3 halaman.

Jadi ada sedikit materi, dilanjutkan dengan praktek, lalu akan dievaluasi oleh mentor. Sampai minimal empat kali.

Materi-materi teknis kepenulisan akan menyesuaikan seiring dengan praktek menulis tersebut.

Pada pertemuan pertama, materi yang diobrolkan berkait dengan jenis paragraf, dimulai dari analisis judul di majalah, koran, dan media online.

Materi tersebut sebenarnya hanya memantik untuk menulis, memberi gambaran awal tentang bagaimana membuat paragraf pertama.

Berikutnya akan disambung dengan materi ejaan dan tanda baca, pada pertemuaan berikutnya. Sampai jumpa. []

Blitar, 8 Oktober 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Senin, 01 Oktober 2018



Keinginan berbeda dengan kebutuhan. Dalam kebutuhan ada keinginan, namun tidak semua keinginan mengandung kebutuhan.

Makan adalah kebutuhan, namun muncul keinginan untuk memilih apa yang dimakan. Nasi pecel, nasi padang, atau nasi borang.

Keinginan tersebut bisa terpenuhi jika memiliki kemampuan, misalkan memiliki uang lebih untuk mewujudkan keinginan tersebut. Sehingga, meskipun di rumah ada nasi liwet lauk tempe, karena dorongan keinginan, tetap akan pergi ke warung nasi padang.

Termasuk dalam kebutuhan lain, seperti berpakaian. Manusia butuh berpakaian agar lebih sehat, tidak masuk angin, gatal-gatal dan lain sebagainya.

Namun keinginan, membuatnya akan memilih jenis pakaian, mulai dari jenis kain, warna, hingga modelnya. Keinginan kadang juga disesuaikan dengan bentuk tubuhnya.

Karena tubuhnya bagus, kekar, maka menggunakan kaos yang ketat. Atau karena tubuhnya langsing dan seksi, maka menggunakan celana ketat.

Keinginan juga berkaitan dengan prestise atau kesan orang terhadapnya. Kenapa menggunakan batik, baju koko, kemeja polos, hingga hal-hal yang bersifat asesoris seperti jam tangan, syal, kalung, dan lain sebagainya.

Dua hal di atas adalah keinginan yang berkaitan dengan kebutuhan. Lalu bagaimana dengan keinginan yang tidak berkaitan dengan kebutuhan?

Sebenarnya berbeda tipis. Bahkan keduanya nyaris sama. Seperti kebutuhan makan tadi. Dia bisa saja makan nasi yang ada di rumah, kebutuhan sudah terpenuhi. Namun karana ada keinginan lain, sehingga makan ke warung.

Dia sebenarnya tidak perlu ke warung, karena di rumah sudah ada makanan, yang meski rasanya tidak seenak di warung.

Namun jika itu dikontrol, mungkin tidak akan ada yang mubazir. Uang yang seharusnya dia gunakan ke warung, barangkali bisa untuk hal lain.

Artinya ke warung bukan lagi kebutuhan. Lebih karena keinginan.

Akan tetapi keinginan manusia selalu berkembang, dan bahkan berada pada tahap irasional.

Seperti keinginan untuk dihargai, dipuji, dikagumi, dicintai dan lain sebagainya. Itu semua keinginan yang sama sekali tak berkait dengan kebutuhan. Meski keinginan yang terus diburu akan jadi semacam kebutuhan baru.

Keinginan bisa terhenti karena tidak adanya kemampuan. Misalkan, ingin beli mobil mewah tetapi tak punya cukup uang.

Ingin beli hape terbaru, model jaket terbaru, merk sepatu yang sedang trend, tas dengan brand tertentu, dan lain sebagainya, namun tidak memiliki kemampuan.

Sementara, pergaulan sosial memberikan tampat khusus dan stigma tersendiri bagi mereka yang memiliki barang-barang tersebut.

Keinginan kemudian menjadi hal yang sungguh menyiksa, ketika tak memiliki kemampuan untuk mewujudkan.

Pada akhirnya, sebagaimana teori Sigmund Freud, ada konflik dalam diri. Ada ketidakseimbangan karena ego yang berupa keinginan dan kepuasan tersebut tidak terpenuhi.

Hal tersebut akan terus terjadi, baik ketika ada atau tidaknya kemampuan untuk mewujudkan keinginan. Arti dari "kebutuhan" pun kian bergeser.

Itu barangkali lebih berat secara psikologis, dibandingkan mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar seperti makan.

Itulah kenapa banyak kasus orang yang menurut kita hidupnya enak dan berkecukupan, namun tiba-tiba bunuh diri.

Kulminasi keinginan yang tidak pernah terpuaskan, sebab benar kata Freud, keinginan tak akan terpuaskan. Sehingga perlu kontrol atas diri (introyeksi), yang kita kenal dengan istilah superego.

Kemampuan memilah mana yang benar-benar kebutuhan, dengan keinginan yang akhirnya menjelma jadi kebutuhan.

Memilah mana keinginan yang wajar, dan keinginan yang berlebihan. Keinginan yang bisa dipenuhi tanpa menimbulkan masalah, dengan keinginan yang bisa meledakkan masalah dikemudian hari.

Mengontrol itu tidak mudah, apalagi jika punya kemampuan untuk mewujudkannya. Apalagi keinginan tersebut bersifat hedonis dan pragmatis berupa hasrat dan kenikmatan sekejap.

Semoga kita mampu mengontrol keinginan kita sendiri. []

Blitar, 28 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Minggu, 30 September 2018



2018 adalah tahun ke-10 berdirinya FLP Blitar, sejak diresmikan pada 31 Agustus 2008, di Aula Panti Sosial Bina Remaja (PSBR) Kota Blitar, dihadiri langsung oleh Ketua FLP Pusat kala itu Pak Irfan Hidayatullah.

Pada kesempatan itupula diadakan Musyawarah wilayah, dan memilih ketua FLP Wilayah Jatim. Terpilihlah Bu Sinta Yudisia, yang dikemudian hari menjadi ketua FLP Pusat.

Jadi, dalam kapasitasnya yang baru berdiri, FLP Blitar pernah jadi tuan rumah Musyawarah wilayah.

Saat itu, saya masih 16 tahun. Meluangkan waktu disela sekolah, sekaligus mengurus ekstrakurikuler Jurnalistik, dari situlah berjumpa dengan orang-orang yang kemudian bersama-sama mendirikan FLP Blitar.

Sayangnya saya hanya bisa aktif sampai Juli 2009. Karena setelah itu hijrah ke Malang, kuliah dari Senin-Jum'at, dan berbagai kegiatan tambahan pada Sabtu dan Ahad.

Sejak itu saya vakum dari FLP Blitar. Sesekali datang pada acaranya, seperti seminar kepenulisan di Unisba pada 2010. Namun tidak aktif mengurus organisasinya.

Saya kemudian bergabung dengan FLP Ranting UIN Malang pada pertengahan 2010 itu. Setahun kemudian jadi sekretaris, pada pertengahan 2012 menjadi ketua selama 20 bulan, hingga akhir 2013.

Setelah itu saya memang tidak ingin aktif lagi di FLP. Meski yang lain masih aktif, bahkan yang lebih lama dari saya, masih aktif di kepengurusan cabang dan ranting misalkan.

Kenapa tidak ingin aktif lagi? Sebaiknya berorganisasi itu jangan terlalu lama. Kalau sudah re-organisasi, cukup jadi penyemangat kepengurusan yang baru.

Kalau memang ada kesempatan ke struktur yang lebih tinggi, misalnya Wilayah atau Pusat, ya bisa lanjut disana. Kalau tidak, mending tidak perlu jadi pengurusnya lagi.

Asalkan jangan meninggalkan generasi yang lemah.

###

Awal 2015 kesibukan saya di Malang tak terlalu padat, sehingga bisa bolak balik ke Blitar untuk mempersiapkan "agenda baru". Hingga pertengahan 2015 bisa benar-benar kembali ke Blitar.

Akhirnya komunikasi dengan FLP Blitar terjalin lagi, sekaligus bersepakat untuk menghidupkan kegiatan di dalamnya. Padahal saya sempat tidak ingin aktif lagi di FLP, namun yang menjadi pemikiran waktu itu, saya belum pernah benar-benar aktif di FLP Blitar.

Bagi saya, ini menyambung keterputusan sejak pertengahan 2009 silam. Tentu dengan pengalaman yang berbeda, dengan semangat dan mood yang berbeda pula.

Dari 2015 hingga 2018 kini, sudah hampir 4 tahun FLP Blitar kembali eksis. Bahkan sangat eksis, dengan 2 kali menerbitkan buku, rutin pertemuan mingguan, agenda-agenda kepenulisan yang dijalankan, sampai masuk koran radar Blitar. Hehe

Dari 2008-2018 pula FLP Blitar memiliki empat ketua, periode Mbak Gesang Sari Mawarni dan Mbak Lilik Nuktihana dari 2008-2015. Lalu Ahmad Saifudin dan Rosy Nursita dari 2015 hingga sekarang.

Sejak kembali ke Blitar pada pertengahan 2015, saya memang ingin aktif ber-literasi di Blitar. Bertemu Alfa Anisa dan Rere, yang kemudian bisa silaturahim ke LPM di kampus-kampus.

Selain tetap menengok adik-adik di Ekstrakurikuler Jurnalistik Man Kota Blitar, tempat saya pertama kali belajar menulis dan berkegiatan literasi.

###

2017 FLP Blitar begitu eksis, selain pertemuan rutin, ada juga kegiatan Goes To School, dua kali mengadakan kegiatan puisi : perayaan hari puisi dan gempa puisi, serta melengkapinya dengan menerbitkan buku antologi puisi.

Bersama kawan-kawan FLP Blitar, saya mewujudkan keinginan yang terpendam sejak lama, yaitu ikut memeriahkan kegiatan literasi, sastra, dan budaya. Mengabdi di tanah kelahiran sendiri.

Akan tetapi, kelemahan terbesar dari sebuah komunitas, tidak adanya pengelolaan organisasi yang formal dan terstruktur. Termasuk kaderisasi. Padahal FLP Blitar termasuk organisasi kaderisasi penulis.

Misalkan saja, soal sistem penerimaan anggota baru, kaderisasi di dalamnya, hingga sistem pergantian kepengurusan, dari ketua dan jajarannya. Hal semacam itu perlu dipikirkan, agar ada proses berkesinambungan.

Agar tidak vakum ketika ditinggal penggeraknya yang lama. Meski untuk menjalankan sistem keorganisasian tersebut juga tidak mudah.

Itulah kenapa komunitas, apalagi komunitas literasi, kadang timbul tenggelam. Eksis, vakum, lalu eksis lagi, dan ada kemudian yang benar-benar vakum selamanya.

Karena sifatnya komunitas, maka orang yang bergabung pun juga membidik sesuatu, katakanlah, ingin bisa menulis. Setelah hal itu didapat, akan pergi.

Atau ada juga, setelah masuk dan bergabung, tidak menemukan yang dicari, lalu pergi. Ada juga yang masuk, aktif beberapa kali diawal, lalu tidak istiqomah.

Ya itulah variasinya, sedikit sekali yang berfikir soal regenerasi dan keberlangsungan organisasi.

Artinya komunitas kepenulisan tidak hanya melahirkan orang yang bisa menulis, namun juga melahirkan orang-orang yang bisa mengajarkan menulis ke yang lain.

Karenanya wadahnya perlu dirawat, komunitasnya perlu tetap eksis sebagai wadah tersebut.

10 tahun FLP Blitar ini sudah cukup lumayan. Meski sempat vakum dan aktif kembali pada 2015 hingga saat ini, berjalan 3 tahun lebih.

Namun seberapa usaha untuk menghidupkan komunitas literasi, wabil khusus dalam bidang kepenulisan, tetap akan kembali pada kesadaran bahwa, menulis adalah kegiatan individual.

Seperti halnya membaca, sudah berapa banyak komunitas baca yang tidak eksis lagi. Sebab membaca adalah kegiatan individu. Ruang yang benar-benar personal.

Saya pun pada akhirnya, setelah banyak momentum bersama komunitas saya lalui, akan kembali merenung pada aspek ini : sudahkah saya sendiri menulis?

Jika Nabi bersabda bahwa hari ini harus lebih produktif dari kemaren, maka yang terjadi pada FLP Blitar justru sebaliknya.

Bagi saya itu hal wajar dan maklum, ada saat semua perlu jeda, merenung sejenak dari semua yang telah dilalui. Hingga pada akhirnya FLP Blitar vakum kembali, seperti sebelum 2015, maka memang sudah saatnya.

Ada saatnya ruang aktualisasi kita pun berganti, asalkan jangan sampai terhenti. Selamat ber-literasi, dari diri sendiri. []

Blitar, 30 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz


Sabtu, 29 September 2018

Mungkinkah setiap rumah tangga bisa swasembada cabai? Artinya tidak perlu membeli cabai untuk kebutuhan harian, mengingat begitu mudahnya menanam cabai sendiri di rumah, baik dengan lahan terbatas atau dengan pot/polybag.


Lalu bagaimana nasib petani cabai? Tentu tidak masalah, karena pasti ada konsumen cabai dalam jumlah banyak, seperti pabrik pengolahan sambal dan rumah makan.


Yang dimaksud adalah kebutuhan harian rumahan, berapa sih kebutuhan cabai untuk pelengkap atau bumbu masakan?


Hal ini sekaligus membiasakan terampil bercocok tanam, dan berhemat sedikit demi sedikit, apalagi ketika harga cabai meroket.


Pada akhirnya, setiap rumah tangga bisa swasembada cabai.


(Celoteh keseharian)


Foto hasil menanam cabai sendiri, di pinggir sungai dekat rumah, yang sebelumnya dijadikan tempat pembuangan sampah :'(

Kamis, 27 September 2018



Acara Tausiyah, khususnya tausiyah keagamaan yang dibawakan Ustad-ustad kondang selalu penuh dengan jamaah, bahkan jadi fenomena tersendiri.

Padahal mungkin isi tausiyahnya biasa saja, bahkan lebih menarik humornya. Bingkisan humor itu sering disebut sebagai daya tarik. Namun, ternyata bukan itu, ada sisi lain yang menjadikan kegiatan tausiyah keagamaan jadi semacam kebutuhan.

Selain kebutuhan fisik, manusia juga membutuhkan sentuhan spiritual. Misalkan, Abu Zaid Ahmad Ibn Sahl al-Balkhi membagi antara kesehatan ruhani (tibb al-ruhani) dan kesehatan mental (tibb al-qalb).

Ada perbedaan antara ruhani yang lebih terkait pada sisi psikologi seseorang, dengan qalb (kalbu) yang lebih menyoroti mental.

Sebagaimana tubuh yang harus rutin menerima asupan makanan agar berenergi dan tidak sakit, tausiyah keagamaan disisi lain juga asupan bagi qalb (kalbu).

Ruhani dan qalb setiap manusia sangat rawan terserang penyakit, seperti depresi, rasa sedih, cemas, ketakutan dan lain-lain.

Penyakit tersebut jika menyerang seseorang, akan berdampak pada gangguan fisiknya. Hanya saja, ketika diteliti secara medis, tidak ditemukan tanda-tanda ada penyakit dalam tubuhnya.

Fenomena ini disebut psikosomatik. Jika ditelusur, psikosomatik ini nyaris mirip dengan sebutan orang seperti "sakit pikir", artinya ada orang yang sakit-sakitan karena tidak kuat menanggung beban pikiran.

Tausiyah keagamaan jadi menemukan relevansinya, ketika orang merasa tenang dan damai berkumpul dengan jamaah lain, mendengar apa yang disampaikan dai. Ada nilai spiritual yang dirasakan.

Manusia membutuhkan nasehat orang lain, apalagi orang tersebut tokoh yang bisa membimbing ke jalan spiritual. Hal tersebut bisa meredam pikiran negatifnya sendiri, yang sering dihinggapi kesedihan, kekhawatiran, kecemasan, rasa takut, dan sebagainya.

Mereka yang hadir dalam keadaan pasrah, percaya sepenuhnya pada yang disampaikan, tanpa perlu mempertanyakan. Itu kuncinya.

Meski tidak semua orang begitu, ada yang bisa mendamaikan dirinya sendiri, dengan mengembangkan pikiran positif dalam dirinya sendiri.

Pada dasarnya, manusia akan selalu mencari kebahagiaan. Dalam rutinitas kerja yang padat misalkan, disela libur ada agenda piknik, agar pikiran segar kembali.

Dalam bayang-bayang kesedihan, kecemasan dan ketakutan dalam hidup misalkan, manusia akan mencari ketenangan. Mencari ketenangan beda hal dengan hanya sekedar mencari kebahagiaan atau kesenangan.

Untuk mencari ketenangan bisa juga dengan ikut dzikir akbar. Ada juga yang menjalankan meditasi, ada yang cukup dengan ngopi dan berbincang bersama teman. Namun teman yang mengajak untuk berpikir positif.

Sementara hadir di acara tausiyah akbar adalah salah satu alternatif yang paling populer : dapat wawasan, rasa tenang, bisa tertawa, dan ... dapat pahala.

Blitar, 26 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz

Senin, 24 September 2018



Apakah baik mendeklarasikan diri untuk golput? Tentu tidak. Bagi penyelenggara dan peserta pemilu, mereka butuh suara. Sementara kita punya hak untuk memilih. Kenapa tidak digunakan?

Pilbup 2 tahun silam, di daerah saya, yang maju hanya sepasang. Lawannya kertas kosong. Kita diberi hak untuk memilih pasangan tersebut, atau kertas kosong.

Terdengar konyol. Makanya saya tidak pergi ke TPS. Sudah pasti pasangan itu menang, memang siapa yang mau mengawal kertas kosong?

Beda halnya jika yang tidak datang ke TPS, dianggap tidak memilih pasangan tersebut.

Jangankan surat suara yang tidak kita ambil, yang sudah kita ambil, kita coblos saja, kemungkinan masih hilang.

Banyak kasus seperti, suara calon A hilang di beberapa TPS, dan tidak bisa diusut, karena tidak punya saksi. Lha, kalau tidak punya saksi bagaimana tahu dapat suara?

Akhirnya ketahuan juga, dia membayar sekian orang dan diprediksi mendapat suara sekian, hanya saja kehabisan modal untuk bayar saksi. Suara pun lenyap.

Karena itu pada sebuah kesempatan, saya bertanya pada salah satu komisioner KPU Kota. Apa pihak penyelenggara sendiri tidak bisa mengawal, sehingga calon tidak perlu keluar modal untuk bayar saksi?

Anda bayangkan, bayar saksi itu tidak murah. Memang nominalnya kecil, tetapi dikalikan berapa ratus atau ribu TPS, tentu memberatkan kantong.

Lalu apa sih dampak dari satu suara yang kita miliki, dibanding jutaan yang lain? Kalau hanya saya sendiri yang golput, tak berdampak sama sekali. Ibarat sebutir pasir di bak mandi.

Namun jika ini dibagikan 1.000 orang dan dibaca 10x lipatnya, mungkin akan cukup berdampak. Hehe

Jadi ada dua pilihan Golput. Pertama, datang ke TPS lalu coblos saja semuanya, lalu celupkan jari kelingking ke tinta biru, agar seolah-olah tidak golput.

Kedua, tidak usah datang. Cukup di rumah, menonton televisi, dan menyimak para pengamat menafsir realitas, dari angka-angka yang terus berjalan.

Tetapi cara yang kedua ini beresiko. Itu berarti surat suara yang menjadi hak kita, akan tetap terlipat rapi. Iya kalau misalkan tetap terlipat rapi, kalau akhirnya dibuka orang jahat dan dicoblos semaunya. Bisa bahaya.

Jadi, kalau ingin golput, lebih baik gunakan cara pertama. Datang ke TPS, coblosi semua, biar tidak disalahgunakan orang jahat.

Namun perlu diingat, buat apa capek-capek ke TPS, antri, korban waktu, dibuat ribet dengan beberapa surat suara yang banyak tulisan dan foto-foto, tetapi justru tidak menyalurkan hak suara dengan baik?

Disinilah kita sadar, bahwa kita terikat dalam sistem dan kemungkinan-kemungkinan yang serba salah. Golput pun salah, mau memilih pun calon yang ada tidak begitu meyakinkan.

Mau apatis sama sekali pun juga keliru. Mereka kelak yang akan membuat dan menjalankan kebijakan yang mengikat kehidupan publik, yang kita ada di dalamnya.

Mau ikut serta mengajak agar menyalurkan hak memilih dengan bijak, rasanya membosankan. Sudah banyak yang melakukan itu, dan memang itulah ajakan terbaik, dari ajakan-ajakan lain yang serba salah tadi.

Makin salah lagi jika mengajak golput. Serba repot.

Jadi kita memang harus memulai untuk lebih peduli lagi, mempelajari rekam jejak dari orang-orang yang akan kita pilih.

Apakah itu Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota, Caleg DPRD Kota/Kabupaten, DPRD Provinsi, DPR RI, DPD RI, hingga lurah dan kepala desa.

Mungkin dari situ akan ada dua atau tiga calon yang menarik perhatian kita, sehingga kita tergerak untuk memilih, bahkan ikut berkampanye.

Dan berdoa, semoga jika jadi kelak, tidak hilang. Maksudnya, setelah jadi anggota DPR, kena PAW karena yang bersangkutan pindah dapil atau tergiur jabatan lain.

Atau, yang baru terpilih jadi Bupati/Walikota, baru setahun atau dua tahun mejabat sudah tergiur maju menjadi Gubernur atau Wakil Gubernur.

Baru terpilih jadi Gubernur atau Wakil Gubernur, baru beberapa bulan sudah sibuk untuk maju Pilpres. Bagaimana tidak mengecewakan?

Namun jika hal itu terjadi, kembalikanlah semua pada Tuhan. Mau bagaimana lagi? Hanya ini yang bisa dilakukan rakyat jelata. Selamat menggunakan hak-hak politik. []

Blitar, 24 September 2018
Ahmad Fahrizal Aziz
www.fahryzal.com

My Plukme

My Plukme
Klik gambar